Teks Bacaan Surat Abasa (Bermuka Masam) Arab Latin Indonesia dan Arti Terjemahannya

6 min read

Teks Bacaan Surat Abasa – Surat Abasa yang artinya adalah bermuka masam merupakan surat ke 80 di dalam Al Quran. Surat yang terdiri dari 42 ayat ini termasuk ke dalam surat Makkiyah karena diturunkan di kota Makkah. Surat Abasa memiliki bacaan ayat Al Quran dengan 1 ruku’ yang berada di jus 30. Nama Abasa diambil karena surat ini diawali dengan kata tersebut.

Teks Bacaan Surat Abasa (Bermuka Masam) Arab Latin Indonesia dan Arti Terjemahannya
Teks Bacaan Surat Abasa (Bermuka Masam) Arab Latin Indonesia dan Arti Terjemahannya

Serupa dengan surat Al Quran yang lain, Surat Abasa ini juga mengandung banyak sekali keutamaan yang patut untuk diteladani. Untuk lebih jelasnya, berikut kami ulas mengenai asbabun nuzul, kandungan, dan fadhillah dari Surat Abasa ini.

Asbabun Nuzul Surat Abasa

Kisah asbabun nuzul Surat Abasa diawali ketika nabi Muhammad SAW tengah berdikusi dengan pemuka kaum Quraisy seperti  Syaibal Bin Rab’ah. Tiba-tiba seorang laki-laki yang bernama Abdullah bertanya sesuatu kepada rasulullah SAW. Mendapat pertanyaan dari Abdullah, nabi Muhammad SAW tidak menghiraukan dan tetap melanjutkan perbincangan dengan sahabat-sahabatnya.

Setelah selesai berdiskusi, nabi Muhammad SAW berdiri untuk beranjak pulang. Namun tubuh beliau tiba-tiba terasa sakit, dan seketika itulah Allah SWT menurunkan wahyu berupa Surat Abasa ayat 1-16. Keenam belas ayat tersebut menjelaskan mengenai nabi Muhammad SAW yang bermuka masam atau cuek dan berpaling ketika seseorang dengan buta mata yaitu Abdullah datang untuk bertanya. Surat ini menjadi teguran bagi rasulullah SAW agar tak membeda-bedakan memperlakukan orang lain berdasarkan dari fisik atau harta yang mereka miliki.

Abdullah merupakan seorang muazin di jaman kepemimpinan nabi Muhammad SAW selain Bilal bin Rabbah. Ia merupakan seorang yang tidak memiliki fisik yang sempurna di mana matanya buta. Meskipun demikian Allah SWT memberikan anugerah kepadanya dengan menajamkan mata hatinya, sehingga meskipun matanya buta tetapi ia tetap dapat melihat seperti orang normal biasanya.

Kandungan Surat Abasa

  • Surat Abasa mengandung teguran dari Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW karena tak mengindahkan pertanyaan yang diajukan seorang muazin yang buta ketika sedang berdiskusi dengan pemuka kaum Quraisy
  • Perintah dari Allah SWT agar tak membeda-bedakan dalam memperlakukan orang lain hanya karena fisik atau harta yang dimiliki
  • Ajaran untuk mendahulukan seseorang yang beriman daripada melayani seorang kafir yang berusaha untuk masuk islam
  • Penjelasan mengenai sifat manusia yang selalu tidak mensyukuri nikmat yang Allah SWT berikan
  • Surat Abasa berisikan dalil yang menjelaskan mengenai keesaan Allah SWT
  • Allah SWT menjelaskan mengenai kondisi manusia pada hari kiamat dalam banyak surat Al Quran, salah satunya adalah Surat Abasa ini.

Fadhilah Surat Abasa

  1. Berlatih melakukan kejujuran
    Fadhilah pertama dari Surat Abasa adalah diberikan kemudahan dalam melakukan kejujuran. Hal ini sesuai dengan sikap yang diambil nabi Muhammad SAW ketika mendapatkan teguran dari Allah SWT mengenai sikapnya terhadap Abdullah, seorang muadzin yang buta. Meskipun ditegur, rasulullah SAW tidak merasa malu dan mengutarakannya kepada umat muslim untuk dijadikan pelajaran.
  2. Diberikan Jalan yang lurus
    Sebagai umat muslim yang takwa tentunya kita semua ingin mendapatkan jalan lurus agar selalu mendapatkan ridho dari Allah SWT. Dengan membaca dan menghayati Surat Abasa, kita semua akan diberi petunjuk mengenai jalan yang lurus sehingga terbebas dari dosa besar.

Teks Bacaan Surat Abasa Arab, Latin dan Terjemahan

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ

‘abasa wa tawallā

Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling,

اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ

an jā`ahul-a’mā

karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum).

وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ

wa mā yudrīka la’allahụ yazzakkā

Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa),

اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ

au yażżakkaru fa tanfa’ahuż-żikrā

atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya?

اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ

ammā manistagnā

Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (pembesar-pembesar Quraisy),

فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ

fa anta lahụ taṣaddā

maka engkau (Muhammad) memberi perhatian kepadanya,

وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ

wa mā ‘alaika allā yazzakkā

padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman).

وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ

wa ammā man jā`aka yas’ā

Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),

وَهُوَ يَخْشٰىۙ

wa huwa yakhsyā

sedang dia takut (kepada Allah),

فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ

fa anta ‘an-hu talahhā

engkau (Muhammad) malah mengabaikannya.

كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ۚ

kallā innahā tażkirah

Sekali-kali jangan (begitu)! Sungguh, (ajaran-ajaran Allah) itu suatu peringatan,

فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗ ۘ

fa man syā`a żakarah

maka barangsiapa menghendaki, tentulah dia akan memperhatikannya,

فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍۙ

fī ṣuḥufim mukarramah

di dalam kitab-kitab yang dimuliakan (di sisi Allah),

مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ ۢ ۙ

marfụ’atim muṭahharah

yang ditinggikan (dan) disucikan,

بِاَيْدِيْ سَفَرَةٍۙ

bi`aidī safarah

di tangan para utusan (malaikat),

كِرَامٍۢ بَرَرَةٍۗ

kirāmim bararah

yang mulia lagi berbakti.

قُتِلَ الْاِنْسَانُ مَآ اَكْفَرَهٗۗ

qutilal-insānu mā akfarah

Celakalah manusia! Alangkah kufurnya dia!

مِنْ اَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهٗۗ

min ayyi syai`in khalaqah

Dari apakah Dia (Allah) menciptakannya?

مِنْ نُّطْفَةٍۗ خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗۗ

min nuṭfah, khalaqahụ fa qaddarah

Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya.

ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗۙ

ṡummas-sabīla yassarah

Kemudian jalannya Dia mudahkan,

ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ

ṡumma amātahụ fa aqbarah

kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya,

ثُمَّ اِذَا شَاۤءَ اَنْشَرَهٗۗ

ṡumma iżā syā`a ansyarah

kemudian jika Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.

كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ اَمَرَهٗۗ

kallā lammā yaqḍi mā amarah

Sekali-kali jangan (begitu)! Dia (manusia) itu belum melaksanakan apa yang Dia (Allah) perintahkan kepadanya.

فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓ ۙ

falyanẓuril-insānu ilā ṭa’āmih

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.

اَنَّا صَبَبْنَا الْمَاۤءَ صَبًّاۙ

annā ṣababnal-mā`a ṣabbā

Kamilah yang telah mencurahkan air melimpah (dari langit),

ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّاۙ

ṡumma syaqaqnal-arḍa syaqqā

kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya,

فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ

fa ambatnā fīhā ḥabbā

lalu di sana Kami tumbuhkan biji-bijian,

وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ

wa ‘inabaw wa qaḍbā

dan anggur dan sayur-sayuran,

وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًاۙ

wa zaitụnaw wa nakhlā

dan zaitun dan pohon kurma,

وَّحَدَاۤئِقَ غُلْبًا

wa ḥadā`iqa gulbā

dan kebun-kebun (yang) rindang,

وَفَاكِهَةً وَّاَبًّا

wa fākihataw wa abbā

dan buah-buahan serta rerumputan.

مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ

matā’al lakum wa li`an’āmikum

(Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu.

فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ ۖ

fa iżā jā`atiṣ-ṣākhkhah

Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua),

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ

yauma yafirrul-mar`u min akhīh

pada hari itu manusia lari dari saudaranya,

وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ

wa ummihī wa abīh

dan dari ibu dan bapaknya,

وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ

wa ṣāḥibatihī wa banīh

dan dari istri dan anak-anaknya.

لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِۗ

likullimri`im min-hum yauma`iżin sya`nuy yugnīh

Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ مُّسْفِرَةٌۙ

wujụhuy yauma`iżim musfirah

Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri,

ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ ۚ

ḍāḥikatum mustabsyirah

tertawa dan gembira ria,

وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌۙ

wa wujụhuy yauma`iżin ‘alaihā gabarah

dan pada hari itu ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram),

تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ ۗ

tarhaquhā qatarah

tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan).

اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ

ulā`ika humul-kafaratul-fajarah

Mereka itulah orang-orang kafir yang durhaka.

Tafsir Surat Abasa Tafsir Jalalain Bahasa Indonesia

  1. (Dia telah bermuka masam) yakni Nabi Muhammad telah bermuka masam (dan berpaling) yaitu memalingkan mukanya karena,
  2. (telah datang seorang buta kepadanya) yaitu Abdullah bin Umi Maktum. Nabi saw. tidak melayaninya karena pada saat itu ia sedang sibuk menghadapi orang-orang yang diharapkan untuk dapat masuk Islam, mereka terdiri dari orang-orang terhormat kabilah Quraisy, dan ia sangat menginginkan mereka masuk Islam. Sedangkan orang yang buta itu atau Abdullah bin Umi Maktum tidak mengetahui kesibukan Nabi saw. pada waktu itu, karena ia buta. Maka Abdullah bin Umi Maktum langsung menghadap dan berseru, “Ajarkanlah kepadaku apa-apa yang telah Allah ajarkan kepadamu.” Akan tetapi Nabi saw. pergi berpaling darinya menuju ke rumah, maka turunlah wahyu yang menegur sikapnya itu, yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam surat ini. Nabi saw. setelah itu, apabila datang Abdullah bin Umi Maktum berkunjung kepadanya, beliau selalu mengatakan, “Selamat datang orang yang menyebabkan Rabbku menegurku karenanya,” lalu beliau menghamparkan kain serbannya sebagai tempat duduk Abdullah bin Umi Maktum.
  3. (Tahukah kamu) artinya, mengertikah kamu (barangkali ia ingin membersihkan dirinya) dari dosa-dosa setelah mendengar dari kamu; lafal Yazzakkaa bentuk asalnya adalah Yatazakkaa, kemudian huruf Ta diidgamkan kepada huruf Za sehingga jadilah Yazzakkaa.
  4. (Atau dia ingin mendapatkan pelajaran) lafal Yadzdzakkaru bentuk asalnya adalah Yatadzakkaru, kemudian huruf Ta diidgamkan kepada huruf Dzal sehingga jadilah Yadzdzakkaru, artinya mengambil pelajaran dan nasihat (lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya) atau nasihat yang telah didengarnya dari kamu bermanfaat bagi dirinya. Menurut suatu qiraat lafal Fatanfa’ahu dibaca Fatanfa’uhu, yaitu dibaca Nashab karena menjadi Jawab dari Tarajji atau lafal La’allahuu tadi.
  5. (Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup) karena memiliki harta.
  6. (Maka kamu melayaninya) atau menerima dan mengajukan tawaranmu; menurut suatu qiraat lafal Tashaddaa dibaca Tashshaddaa yang bentuk asalnya adalah Tatashaddaa, kemudian huruf Ta kedua diidgamkan kepada huruf Shad, sehingga jadilah Tashshaddaa.
  7. (Padahal tidak ada celaan atasmu kalau dia tidak membersihkan diri) yakni orang yang serba berkecukupan itu tidak beriman.
  8. (Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera) lafal Yas’aa berkedudukan sebagai Haal atau kata keterangan keadaan bagi Fa’il atau subjek yang terkandung di dalam lafal Jaa-a.
  9. (Sedangkan ia takut) kepada Allah swt.; lafal Yakhsyaa menjadi Haal dari fa’il yang terdapat di dalam lafal Yas’aa, yang dimaksud adalah si orang buta itu atau Abdullah bin Umi Maktum.
  10. (Maka kamu mengabaikannya) artinya, tiada memperhatikannya sama sekali; lafal Talahhaa asalnya Tatalahhaa, kemudian salah satu dari kedua huruf Ta dibuang, sehingga jadilah Talahhaa.
  11. (Sekali-kali jangan) berbuat demikian, yakni janganlah kamu berbuat hal yang serupa lagi. (Sesungguhnya hal ini) maksudnya, surat ini atau ayat-ayat ini (adalah suatu peringatan) suatu pelajaran bagi makhluk semuanya.
  12. (Maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya) atau tentu ia menghafalnya kemudian menjadikannya sebagai nasihat bagi dirinya.
  13. (Di dalam kitab-kitab) menjadi Khabar yang kedua, karena sesungguhnya ia dan yang sebelumnya berkedudukan sebagai jumlah Mu’taridhah atau kalimat sisipan (yang dimuliakan) di sisi Allah.
  14. (Yang ditinggikan) di langit (lagi disucikan) dari sentuhan setan.
  15.  (Di tangan para penulis) yakni malaikat-malaikat yang menukilnya dari Lohmahfuz.
  16. (Yang mulia lagi berbakti) artinya, semuanya taat kepada Allah swt.; mereka itu adalah malaikat-malaikat.
  17. (Binasalah manusia) maksudnya, terlaknatlah orang kafir itu (alangkah sangat kekafirannya) Istifham atau kata tanya pada ayat ini mengandung makna celaan; makna yang dimaksud, apakah gerangan yang mendorongnya berlaku kafir?
  18. (Dari apakah Allah menciptakannya?) Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna Taqrir. Kemudian Allah menjelaskannya melalui firman berikutnya:
  19. (Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya) menjadi ‘alaqah, kemudian menjadi segumpal daging hingga akhir penciptaannya.
  20. (Kemudian untuk menempuh jalannya) yakni jalan ia keluar dari perut ibunya (Dia memudahkannya.)
  21. (Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur) artinya, Dia menjadikannya berada di dalam kubur yang menutupinya.
  22. (Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali) menjadi hidup kembali pada hari berbangkit nanti.
  23. (Tidaklah demikian) artinya, benarlah (manusia itu belum melaksanakan) belum mengerjakan (apa yang diperintahkan Allah kepadanya) yakni apa yang telah diperintahkan oleh Rabbnya supaya ia mengerjakannya.
  24. (Maka hendaklah manusia itu memperhatikan) dengan memasang akalnya (kepada makanannya) bagaimanakah makanan itu diciptakan dan diatur untuknya?
  25. (Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air) dari awan (dengan sebenar-benarnya.)
  26. (Kemudian Kami belah bumi) dengan tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dari dalamnya (dengan sebaik-baiknya.)
  27. (Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu) seperti biji gandum dan biji jawawut.
  28. (Anggur dan sayur-sayuran) atau sayur-mayur.
  29. (Zaitun dan pohon kurma),
  30. (dan kebun-kebun yang lebat) yakni kebun-kebun yang banyak pepohonannya.
  31. (Dan buah-buahan serta rumput-rumputan) yaitu tumbuh-tumbuhan yang menjadi makanan binatang ternak; tetapi menurut suatu pendapat “Abban” artinya makanan ternak yang berasal dari tangkai atau bulir gandum atau padi dan lain sebagainya yang sejenis.
  32. (Untuk kesenangan) sebagai kesenangan atau untuk menyenangkan, penafsirannya sebagaimana yang telah disebutkan tadi pada surat sebelumnya (bagi kalian dan bagi binatang-binatang ternak kalian) penafsirannya sama dengan yang terdahulu pada surat sebelumnya.
  33. (Dan apabila datang suara yang memekakkan) yakni tiupan sangkakala yang kedua.
  34. (Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya.)
  35. (Dari ibu dan bapaknya.)
  36. (Dari teman hidupnya) yakni istrinya (dan anak-anaknya) lafal Yauma merupakan Badal dari lafal Idzaa, sebagai Jawabnya disimpulkan dari berikut ini.
  37. (Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya) yakni keadaan yang membuatnya tidak mengindahkan hal-hal lainnya, atau dengan kata lain setiap orang pada hari itu sibuk dengan urusannya masing-masing.
  38. (Banyak muka pada hari itu berseri-seri) yakni tampak cerah ceria.
  39. (Tertawa dan gembira) atau bergembira, mereka itu adalah orang-orang yang beriman.
  40. (Dan banyak pula muka pada hari itu tertutup debu) artinya, penuh dengan debu.
  41. (Dan ditutup pula) diselimuti pula (oleh kegelapan) dan kepekatan yang menghitam.
  42. (Mereka itulah) maksudnya, orang-orang yang keadaannya demikian adalah (orang-orang kafir lagi durhaka) yakni orang- orang yang di dalam dirinya berkumpul kekafiran dan kedurhakaan.

Demikian ulasan lengkap mengenai Surat Abasa lengkap dengan kisah asbabun nuzul, kandungan, dan fadhilahnya. Semoga artikel ini bermanfaat, terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *