Teks Bacaan Surat Adh Dhuhaa (Waktu Dhuha) Arab Latin Indonesia dan Arti Terjemahannya

Teks Bacaan Surat Adh Dhuhaa – Surat Adh Dhuha yang artinya adalah waktu dhuha merupakan surat ke 93 di dalam Al Quran. Surat yang terdiri dari 11 ayat ini termasuk ke dalam surat Makkiyah karena diturunkan di kota Makkah. Surat Adh Dhuha memiliki bacaan ayat Al Quran dengan 1 ruku’ yang berada di jus 30. Nama Adh Dhuha diambil menjadi judul karena pada ayat pertama surat ini diawali dengan kata Surat Adh Dhuha.

Teks Bacaan Surat Adh Dhuhaa (Waktu Dhuha) Arab Latin Indonesia dan Arti Terjemahannya
Teks Bacaan Surat Adh Dhuhaa (Waktu Dhuha) Arab Latin Indonesia dan Arti Terjemahannya

Serupa dengan surat Al Quran yang lain, Surat Adh Dhuha ini juga mengandung banyak sekali keutamaan yang patut untuk diteladani. Untuk lebih jelasnya, berikut kami ulas mengenai asbabun nuzul, kandungan, dan fadhillah dari Surat Adh Dhuha ini.

Asbabun Nuzul Surat Adh Dhuha

Salah satu hadist yang mengisahkan mengenai asbabun nuzul Surat Adh Dhuha diriwayatkan oleh Asy Syaikhan yang bersumber dari Jundub. Dalam hadist tersebut dijelaskan bahwa pada satu waktu nabi Muhammad SAW sedang tidak enak badan, sehingga tidak dapat melaksanakan sholat malam selama beberapa hari. Kemudian seorang wanita datang menghampiri rasulullah SAW dan mengatakan bahwa syaitannya atau malaikat Jibril telah meninggalkannya.

Selain itu terdapat kisah lain dari sebab musabab turunnya Surat Adh Dhuha. Dalam satu waktu, wahyu yang diberikan Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW berhenti untuk  sementara, sehingga malaikat Jibril tak mengunjungi beliau. Melihat hal tersebut, kaum musyrikin Makkah berbondong-bondong mendatangi rasulullah SAW dan mengatakan ‘’tuhan sesembahan Muhammad telah membencinya sehingga ia ditinggalkan.

Untuk membantah perkataan dan anggapan orang kafir tersebut, Allah SWT menurunkan Surat Adh Dhuha ayat 1-5.

Kandungan Surat Adh Dhuha

  • Janji Allah SWT terhadap nabi Muhammad SAW, yaitu tidak akan pernah meninggalkannya dalam keadaan apapun
  • Surat Adh Dhuha mengandung penjelasan bahwa seiring berjalannya waktu, dakwah dan kehidupan nabi Muhammad SAW akan semajin berkembang dan berkah
  • Melalui Surat Adh Dhuha, Allah melarang seluruh umatnya untuk menghardik orang yang meminta-minta. Selain itu, Allah SWT juga melarang umatnya menghina orang yatim dan fakir miskin
  • Petunjuk dari Allah SWT bahwa salah satu bentuk dari bersyukur adalah dengan menyebut-nyebut nikmat yang telah diberikan Allah SWT

Fadhilah Surat Adh Dhuha

  1. Dilancarkan rejekinya

Fadhilah pertama dari Surat Adh Dhuha adalah diberikan kemudahan dan kelancaran dalam mencari rejeki. Salah satu sabda dari rasulullah SAW menjelaskan bahwa untuk memiliki rejeki yang melimpah dan berkah caranya adalah dengan membaca Surat Adh Dhuha saat matahari terbit dan matahari terbenam masing-masing sebanyak tujuh kali.

  1. Diberikan keamanan

Fadhilah kedua dari Surat Adh Dhuha adalah diberikan keamanan dari berbagai gangguan. Caranya yaitu dengan mendirikan sholat dhuha dengan jumlah enam rakaat setiap hari jumat. Setelah selesai sholat, anda dianjurkan untuk membaca Surat Adh Dhuha sebanyak tujuh kali.

  1. Diberikan petunjuk dari Allah SWT

Tak berhenti pada dua fadhilah di atas, Surat Adh Dhuha juga memiliki keutamaan lainnya yaitu akan diberikan petunjuk dalam berbagai perkara. Untuk itu, anda dianjurkan untuk melakukan sholat dhuha selama empat puluh hari. Selain itu, bacalah Surat Adh Dhuha sebanyak 40 hari setelah melaksanakan sholat dhuha tersebut.

Demikian ulasan lengkap mengenai Surat Adh Dhuha lengkap dengan kisah asbabun nuzul, kandungan, dan fadhilahnya. Semoga artikel ini bermanfaat, terima kasih.

Teks Bacaan Surat Adh-Dhuhaa

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

وَالضُّحٰىۙ – ١

Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah),

وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ – ٢

dan demi malam apabila telah sunyi,

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىۗ – ٣

Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu,

وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ – ٤

dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan.

وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰىۗ – ٥

Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.

اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ – ٦

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu),

وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰىۖ – ٧

dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk,

وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰىۗ – ٨

dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.

فَاَمَّا الْيَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْۗ – ٩

Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.

وَاَمَّا السَّاۤىِٕلَ فَلَا تَنْهَرْ – ١٠

Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya).

وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ ࣖ – ١١

Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).

Tafsir Surat Adh-Dhuhaa Al-Jalalayn

01. (Demi waktu Dhuha) yakni waktu matahari sepenggalah naik, yaitu di awal siang hari; atau makna yang dimaksud ialah siang hari seluruhnya.

02. (Dan demi malam apabila telah sunyi) telah tenang, atau telah menutupi dengan kegelapannya.

03. (Tiada meninggalkan kamu) tiada membiarkan kamu sendirian, hai Muhammad (Rabbmu, dan tiada pula Dia benci kepadamu) atau tidak senang kepadamu. Ayat ini diturunkan setelah selang beberapa waktu yaitu lima belas hari wahyu tidak turun-turun kepadanya, kemudian orang-orang kafir mengatakan, sesungguhnya Rabb Muhammad telah meninggalkannya dan membencinya.

04. (Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu) maksudnya kehidupan di akhirat itu lebih baik bagimu, karena di dalamnya terdapat kemuliaan-kemuliaan bagimu (dari permulaan) dari kehidupan duniawi.

05. (Dan kelak Rabbmu pasti memberimu) di akhirat berupa kebaikan-kebaikan yang berlimpah ruah (lalu kamu menjadi puas) dengan pemberian itu. Maka Rasulullah saw. bersabda, “Kalau begitu mana mungkin aku puas, sedangkan seseorang di antara umatku masih berada di neraka.” Sampai di sini selesailah Jawab Qasam, yaitu dengan kedua kalimat yang dinisbatkan sesudah dua kalimat yang dinafikan.

06. (Bukankah Dia mendapatimu) Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna Taqrir atau menetapkan (sebagai seorang yatim) karena ayahmu telah mati meninggalkan kamu sebelum kamu dilahirkan, atau sesudahnya (lalu Dia melindungimu) yaitu dengan cara menyerahkan dirimu ke asuhan pamanmu Abu Thalib.

07. (Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung) mengenai syariat yang harus kamu jalankan (lalu Dia memberi petunjuk) Dia menunjukimu kepadanya.

08. (Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan) atau orang yang fakir (lalu Dia memberikan kecukupan) kepadamu dengan pemberian yang kamu merasa puas dengannya, yaitu dari ganimah dan dari lain-lainnya. Di dalam sebuah hadis disebutkan, “Tiadalah kaya itu karena banyaknya harta, tetapi kaya itu adalah kaya jiwa.”

09. (Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang) dengan cara mengambil hartanya atau lain-lainnya yang menjadi milik anak yatim.

010. (Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya) membentaknya karena dia miskin.

011. (Dan terhadap nikmat Rabbmu) yang dilimpahkan kepadamu, yaitu berupa kenabian dan nikmat-nikmat lainnya (maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya) yakni mengungkapkannya dengan cara mensyukurinya. Di dalam beberapa Fi’il pada surah ini Dhamir yang kembali kepada Rasulullah saw. tidak disebutkan karena demi memelihara Fawashil atau bunyi huruf di akhir ayat. Seperti lafal Qalaa asalnya Qalaaka; lafal Fa-aawaa asalnya Fa-aawaaka; lafal Fahadaa asalnya Fahadaaka; dan lafal Fa-aghnaa asalnya Fa-aghnaaka

Tags: