Teks Bacaan Surat Al Ghaasyiyah (Hari Pembalasan) Arab Latin Indonesia dan Arti Terjemahannya

5 min read

Surat Al Ghasyiyah yang artinya adalah hari pembalasan merupakan surat ke 88 di dalam Al Quran. Surat yang terdiri dari 88 ayat ini termasuk ke dalam surat Makkiyah karena diturunkan di kota Makkah. Surat Al Ghasyiyah memiliki bacaan ayat Al Quran dengan 1 ruku’ yang berada di jus 30. Nama Al Ghasyiyah diambil karena surat ini diawali dengan kata tersebut.

Teks Bacaan Surat Al Ghaasyiyah (Hari Pembalasan) Arab Latin Indonesia dan Arti Terjemahannya
Teks Bacaan Surat Al Ghaasyiyah (Hari Pembalasan) Arab Latin Indonesia dan Arti Terjemahannya

Serupa dengan surat Al Quran yang lain, Surat Al Ghasyiyah ini juga mengandung banyak sekali keutamaan yang patut untuk diteladani. Untuk lebih jelasnya, berikut kami ulas mengenai asbabun nuzul, kandungan, dan fadhillah dari Surat Al Ghasyiyah ini.

Asbabun Nuzul Surat Al Ghasyiyah

Salah satu hadist yang mengisahkan mengenai Surat Al Ghasyiyah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah. Dalam hadist ini dijelaskan bahwa Allah telah menerangkan mengenai gambaran surga dalam surat Al Quran yang telah diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW.

Mendengar penjelasan mengenai ciri-ciri surga tersebut, orang-orang kafir merasa heran dan tidak percaya dengan keindahan dan kenyamanan di dalamnya. Maka dari itu, Allah SWT memerintahkan malaikat Jibril untuk menurunkan sebuah wahyu kepada nabi Muhamamd SAW yaitu Surat Al Ghasyiyah ayat 17 yang berbunyi:

‘’kemudian apakah mereka tidak mengetahui dan memperhatikan bagaimana unta diciptakan’’ (Q.S Al Ghasyiyah 88: 17).

Tujuan diturunkannya ayat ini adalah perintah kepada seluruh umat muslim dan beriman untuk memikirkan dan merenungkan mengenai kebesaran Allah SWT dengan segala ciptaannya.

Kandungan Surat Al Ghasyiyah

  • Penjelasan yang menerangkan mengenai kondisi dan keadaan orang kafir ketika hari pembalasan telah tiba. Mereka akan diberikan adzab dan balasan terhadap kekufuran dan dusta yang mereka sebarkan selama hidup di dunia.
  • Selain keadaan orang kafir, Surat Al Ghasyiyah juga mengandung penjelasan mengenai kondisi orang-orang yang beriman ketika hari tersebut tiba. Sebagai balasan atas keimanan dan kebaikan yang mereka miliki selama hidup di dunia, Allah SWT akan memberikan balasan berupa surga dengan segala isinya
  • Perintah terhadap seluruh umat manusia agar selalu memperhatikan dan mengingat kebesaran Allah SWT melalui ciptaannya yang agung
  • perintah yang diturunkan oleh Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW untuk mendakwahkan dan mengingatkan seluruh umat manusia baik yang beriman maupun durhaka agar beriman kepada Allah SWT

Fadhilah Membaca Surat Al Ghasyiyah

  1. Mengikuti sunah nabi Muhammad SAW

Karena memiliki kandungan yang sangat penting sebagai petunjuk dalam beperilaku dalam kehidupan bermasyarakat, nabi Muhamamd SAW kerap kali membaca Surat Al Ghasyiyah ini dalam rakaat kedua sholat ied dan sholat jumat.

  1. Diberikan jalan yang lurus

Fadhilah kedua dari Surat Al Ghasyiyah ini adalah akan diberikan petunjuk agar berada di jalan lurus bagi siapa saja yang istiqomah membacanya. Maka dari itu, sebaiknya setelah selesai sholat, sempatkan untuk membaca Surat Al Ghasyiyah beserta dengan arti dan kandungannya agar mendapatkan petunjuk terhadap hal yang batik dan hak.

  1. Pahala yang melimpah

Sejatinya membaca firman Allah SWT dalam Al Quran merupakan sebuah ibadah yang tentunya mampu mendatangkan pahala, tak terkecuali dengan Surat Al Ghasyiyah ini.

Teks Bacaan Surat Al Ghasyiyah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

 

هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ الْغَاشِيَةِۗ

hal atāka ḥadīṡul-gāsyiyah

Sudahkah sampai kepadamu berita tentang (hari Kiamat)?

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ خَاشِعَةٌ ۙ

wujụhuy yauma`iżin khāsyi’ah

Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk terhina,

عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ ۙ

‘āmilatun nāṣibah

(karena) bekerja keras lagi kepayahan,

تَصْلٰى نَارًا حَامِيَةً ۙ

taṣlā nāran ḥāmiyah

mereka memasuki api yang sangat panas (neraka),

تُسْقٰى مِنْ عَيْنٍ اٰنِيَةٍ ۗ

tusqā min ‘ainin āniyah

diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas.

لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ اِلَّا مِنْ ضَرِيْعٍۙ

laisa lahum ṭa’āmun illā min ḍarī’

Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri,

لَّا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِيْ مِنْ جُوْعٍۗ

lā yusminu wa lā yugnī min jụ’

yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar.

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاعِمَةٌ ۙ

wujụhuy yauma`iżin nā’imah

Pada hari itu banyak (pula) wajah yang berseri-seri,

لِّسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ ۙ

lisa’yihā rāḍiyah

merasa senang karena usahanya (sendiri),

فِيْ جَنَّةٍ عَالِيَةٍۙ

fī jannatin ‘āliyah

(mereka) dalam surga yang tinggi,

لَّا تَسْمَعُ فِيْهَا لَاغِيَةً ۗ

lā tasma’u fīhā lāgiyah

di sana (kamu) tidak mendengar perkataan yang tidak berguna.

فِيْهَا عَيْنٌ جَارِيَةٌ ۘ

fīhā ‘ainun jāriyah

Di sana ada mata air yang mengalir.

فِيْهَا سُرُرٌ مَّرْفُوْعَةٌ ۙ

fīhā sururum marfụ’ah

Di sana ada dipan-dipan yang ditinggikan,

وَّاَكْوَابٌ مَّوْضُوْعَةٌ ۙ

wa akwābum mauḍụ’ah

dan gelas-gelas yang tersedia (di dekatnya),

وَّنَمَارِقُ مَصْفُوْفَةٌ ۙ

wa namāriqu maṣfụfah

dan bantal-bantal sandaran yang tersusun,

وَّزَرَابِيُّ مَبْثُوْثَةٌ ۗ

wa zarābiyyu mabṡụṡah

dan permadani-permadani yang terhampar.

اَفَلَا يَنْظُرُوْنَ اِلَى الْاِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْۗ

a fa lā yanẓurụna ilal-ibili kaifa khuliqat

Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan?

وَاِلَى السَّمَاۤءِ كَيْفَ رُفِعَتْۗ

wa ilas-samā`i kaifa rufi’at

dan langit, bagaimana ditinggikan?

وَاِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْۗ

wa ilal-jibāli kaifa nuṣibat

Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan?

وَاِلَى الْاَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْۗ

wa ilal-arḍi kaifa suṭiḥat

Dan bumi bagaimana dihamparkan?

فَذَكِّرْۗ اِنَّمَآ اَنْتَ مُذَكِّرٌۙ

fa żakkir, innamā anta mużakkir

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan.

لَّسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍۙ

lasta ‘alaihim bimuṣaiṭir

Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,

اِلَّا مَنْ تَوَلّٰى وَكَفَرَۙ

illā man tawallā wa kafar

kecuali (jika ada) orang yang berpaling dan kafir,

فَيُعَذِّبُهُ اللّٰهُ الْعَذَابَ الْاَكْبَرَۗ

fa yu’ażżibuhullāhul-‘ażābal-akbar

maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar.

اِنَّ اِلَيْنَآ اِيَابَهُمْ

inna ilainā iyābahum

Sungguh, kepada Kamilah mereka kembali,

ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ

ṡumma inna ‘alainā ḥisābahum

kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kamilah membuat perhitungan atas mereka.

Sesuai dengan Kemenag

Tafsir Surat Al Ghasyiyah

01. (Apakah) telah (datang kepadamu berita hari kiamat) hari kiamat dinamakan hari yang menutupi karena pada hari itu semua makhluk diselimuti oleh kengerian-kengeriannya.

02. (Banyak muka pada hari itu) yang dimaksud dengan ungkapan lafal Wujuuh atau muka adalah orang-orangnya, demikian lafal yang sama sesudahnya nanti (tunduk) terhina.

03. (Pekerja keras lagi kepayahan) maksudnya dalam keadaan lelah dan payah karena diikat dengan rantai dan belenggu.

04. (Memasuki) dapat dibaca Tashlaa dan Tushlaa, jika dibaca Tushlaa artinya dimasukkan ke dalam (api yang sangat panas.)

05. (Diberi minum dari sumber yang sangat panas) atau dengan air yang sangat panas.

06. (Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri) Dharii’ adalah sejenis pohon yang berduri, hewan ternak pun tidak mau memakannya karena duri itu keras lagi kotor.

07. (Yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.)

08. (Banyak muka pada hari itu berseri-seri) atau tampak cerah dan cantik.

09. (Karena usahanya) sewaktu di dunia yaitu karena ketaatannya (mereka merasa senang) di alam akhirat, yaitu sewaktu mereka melihat pahalanya.

010. (Dalam surga yang tinggi) secara nyata dan dapat mereka rasakan.

011. (Tidak kamu dengar) dapat dibaca Tasma’u dan Yasma’u, jika Yasma’u artinya tidak dia dengar (di dalamnya perkataan
yang tak berguna) tiada seorang yang berkata melantur yang tidak ada gunanya.

012. (Di dalamnya ada mata air yang mengalir) lafal `Ainun sekalipun bentuknya Mufrad tetapi maknanya jamak.

013. (Di dalamnya ada takhta-takhta yang ditinggikan) yaitu tempat kedudukan dan derajatnya ditinggikan.

014. (Dan gelas-gelas) yakni tempat-tempat untuk minum tanpa gagang (yang terletak) di setiap tepi mata air yang disediakan untuk peminum-peminumnya.

015. (Dan bantal-bantal) untuk bersandar (yang tersusun) atau dalam keadaan tersusun untuk tempat bersandar.

016. (Dan permadani-permadani) yaitu permadani yang empuk lagi tebal (yang terhampar) dalam keadaan terbentang.

017. (Maka apakah mereka tidak memperhatikan) dengan perhatian yang dibarengi keinginan mengambil pelajaran; yang dimaksud adalah orang-orang kafir Mekah (unta bagaimana dia diciptakan?)

018. (Dan langit, bagaimanakah ia ditinggikan?)

019. (Dan gunung-gunung, bagaimana ia dipancangkan?)

020. (Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?) maksudnya dijadikan sehingga terhampar. Melalui hal-hal tersebutlah mereka mengambil kesimpulan tentang kekuasaan Allah swt. dan keesaan-Nya. Pembahasan ini dimulai dengan menyebut unta, karena unta adalah binatang ternak yang paling mereka kenal daripada yang lain-lainnya. Firman Allah “Suthihat” jelas menunjukkan bahwa bumi itu rata bentuknya. Pendapat inilah yang dianut oleh para ulama Syara’. Jadi bentuk bumi bukanlah bulat seperti bola sebagaimana yang dikatakan oleh para ahli ilmu konstruksi. Masalah ini sama sekali tidak ada sangkut- pautnya dengan salah satu rukun syariat.

021. (Maka berilah peringatan) berilah mereka peringatan yang mengingatkan mereka kepada nikmat-nikmat Allah dan bukti- bukti yang menunjukkan keesaan-Nya (karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.)

022. (Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka) menurut suatu qiraat lafal Mushaithirin dibaca Musaithirin yakni dengan memakai huruf Sin bukan Shad, artinya menguasai mereka. Ayat ini diturunkan sebelum ada perintah berjihad.

023. (Kecuali) tetapi (orang yang berpaling) dari keimanan (dan kafir) kepada Alquran, artinya ingkar kepadanya.

024. (Maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar) yaitu azab di akhirat dan azab di dunia dengan dibunuh dan ditawan.

025. (Sesungguhnya kepada Kamilah kembali mereka) maksudnya mereka akan kembali kepada-Nya sesudah mati.

026. (Kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka) atau memberikan balasan kepada mereka, Kami sama sekali tidak akan membiarkan mereka begitu saja, mereka pasti Kami hisab.

Download Murottal Al-Ghassiyah MP3

Muhammad Taha Al Junaid

 

Download MP3

Ahmed Saoud

 

Download MP3

Ahmed Al Misbahi

 

Download MP3

Salah Al Hashem

 

Download MP3

Saud Al Shuraim

 

Download MP3

Muzammil Hasballah

 

Download MP3

Nabil Ar Rifai

 

Download MP3

Emad Al Mansary

 

Download MP3

Hani Ar Rifai

 

Download MP3

Aziz Alili

 

Download MP3

Abdul Jamal Al Aloosi

 

Download MP3

Abdallah Kamel

 

Download MP3

Abdul Rahman As Sudais

 

Download MP3

Demikian ulasan lengkap mengenai Surat Al Ghasyiyah lengkap dengan kisah asbabun nuzul, kandungan, dan fadhilahnya. Semoga artikel ini bermanfaat, terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *