Teks Bacaan Surat Al Mursalat (Malaikat-malaikat yang Diutus) Arab Latin Indonesia dan Arti Terjemahannya

8 min read

Bacaan Surat Al Mursalat  – Surat Al Mursalat yang artinya adalah malaikat-malaikat yang diutus merupakan surat ke 77 di dalam Al Quran. Surat yang terdiri dari 50 ayat ini termasuk ke dalam surat Makkiyah karena diturunkan di kota Makkah. Surat Al Insan memiliki bacaan ayat Al Quran dengan 2 ruku’ yang berada di jus 29. Nama Al Mursalat diambil dari kata Al Mursalat yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Teks Bacaan Surat Al Mursalat (Malaikat-malaikat yang Diutus) Arab Latin Indonesia dan Arti Terjemahannya
Teks Bacaan Surat Al Mursalat (Malaikat-malaikat yang Diutus) Arab Latin Indonesia dan Arti Terjemahannya

Serupa dengan surat Al Quran yang lain, Surat Al Mursalat ini juga mengandung banyak sekali keutamaan yang patut untuk diteladani. Untuk lebih jelasnya, berikut kami ulas mengenai asbabun nuzul, kandungan, dan fadhillah dari Surat Al Mursalat ini.

Asbabun Nuzul Surat Al Mursalat

Salah satu hadist yang mengisahkan mengenai asbabun nuzul dari Surat Al Mursalat diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Mujahid. Dalam hadist tersebut dijelaskan bahwa suku Tsaqif tidak mau ruku’atau menyembah Allah SWT meskipun sudah diperingatkan oleh utusannya.

Maka dari itu, Allah SWT menurunkan Surat Al Mursalat ayat 48 kepada nabi Muhammad SAW lantaran malaikat Jibril. Ayat tersebut berbunyi ‘’dan jika diperintahkan kepada mereka: rukuklah, maka mereka tidak mau melakukannya’’ (Q.S Al Mursalat 77: 48).

Dalam konteks ini banyak orang yang mengangga perintah ruku’ di sini adalah sholat, dan sebagia yang lain menganggaonya hanya untuk menyembah Allah SWT.

Kandungan Surat Al Mursalat

  • Penegasan dari Allah SWT bahwa segala hal yang dijanjikan maupun yang diancamkan akan terjadi apabila waktunya telah tiba
  • Penjelasan mengenai berbagai peristiwa yang akan terjadi mejelang terjadinya hari akhir
  • Kandungan mengenai peringatan dari Allah SWT terhadap orang yang mendustakan Allah SWT, nabi Muhammad SAW, dan agama islam.
  • Penjelasan mengenai proses pembuatan manusia yang diawali dari air mani yang hina
  • Gambaran keadaan orang kafir dan orang mukmin di hari pembalasan kelak
  • Gambaran dan pengetahuan mengenai adzab yang akan diterima oleh orang yang mengiingkari ajaran agama islam yang disampaikan oleh nabi dan rasul Allah SWT.
  • Keterangan bahwa pada hari kiamat kelak, manusia dibagi menjadi dua golongan yaitu golongan yang mengambil Al Quran dari kanan dan dari kiri.

Fadhilah Membaca Surat Al Mursalat

  1. Dicatat sebagai seorang muslimin sejati

Nabi Muhammad SAW bersabda ‘’siapa saja yang membaca surat Al Mursalat, maka mereka tidak akan dicap sebagai orang yang telah menyekutukan kebesaran Allah SWT’’.

  1. Kebahagiaan di Akhirat

Seperti yang kita tahu bahwa di akhirat kelak semua perbuatan yang telah kita lakukan di dunia akan diberikan balasan yang setimpal. Maka dari itu, perbanyak amal sholeh dan ibadah agar mendapatkan kebahagiaan di akhirat nanti. Salah satu cara untuk agar selamat dunia dan di akhirat adalah dengan memperbanyak membaca Surat Al Mursalat. Pasalnya siapa saja yang telah terbiasa membaca surat ini akan diberikan air minum yang menyegarkan ketika di akhirat kelak.

  1. Terhindar dari tindak pencurian

Fadhilah terakhir bagi orang yang kerap membaca Surat Al Mursalat adalah dihindarkan dari tindak kejahatan pencurian. Selain itu, orang tersebut juga akan dijauhkan dari segala perkara yang akan merugikannya. Untuk itu, bacalah Surat Al Mursalat dan gunakan sebagai wirid setiap selesai melaksanakan sholat fardhu.

Teks Bacaan Surat Al Mursalat Arab, Latin dan Terjemahan

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

وَالْمُرْسَلٰتِ عُرْفًاۙ

wal-mursalāti ‘urfā

Demi (malaikat-malaikat) yang diutus untuk membawa kebaikan,

فَالْعٰصِفٰتِ عَصْفًاۙ

fal-‘āṣifāti ‘aṣfā

dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya,

وَّالنّٰشِرٰتِ نَشْرًاۙ

wan-nāsyirāti nasyrā

dan (malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Allah) dengan seluas-luasnya,

فَالْفٰرِقٰتِ فَرْقًاۙ

fal-fāriqāti farqā

dan (malaikat-malaikat) yang membedakan (antara yang baik dan yang buruk) dengan sejelas-jelasnya,

فَالْمُلْقِيٰتِ ذِكْرًاۙ

fal-mulqiyāti żikrā

dan (malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu,

عُذْرًا اَوْ نُذْرًاۙ

‘użran au nużrā

untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan.

اِنَّمَا تُوْعَدُوْنَ لَوَاقِعٌۗ

innamā tụ’adụna lawāqi’

Sungguh, apa yang dijanjikan kepadamu pasti terjadi.

فَاِذَا النُّجُوْمُ طُمِسَتْۙ

fa iżan-nujụmu ṭumisat

Maka apabila bintang-bintang dihapuskan,

وَاِذَا السَّمَاۤءُ فُرِجَتْۙ

wa iżas-samā`u furijat

dan apabila langit terbelah,

وَاِذَا الْجِبَالُ نُسِفَتْۙ

wa iżal-jibālu nusifat

dan apabila gunung-gunung dihancurkan menjadi debu,

وَاِذَا الرُّسُلُ اُقِّتَتْۗ

wa iżar-rusulu uqqitat

dan apabila rasul-rasul telah ditetapkan waktunya.

لِاَيِّ يَوْمٍ اُجِّلَتْۗ

li`ayyi yaumin ujjilat

(Niscaya dikatakan kepada mereka), “Sampai hari apakah ditangguhkan (azab orang-orang kafir itu)?”

لِيَوْمِ الْفَصْلِۚ

liyaumil-faṣl

Sampai hari keputusan.

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الْفَصْلِۗ

wa mā adrāka mā yaumul-faṣl

Dan tahukah kamu apakah hari ke-putusan itu?

وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran).

اَلَمْ نُهْلِكِ الْاَوَّلِيْنَۗ

a lam nuhlikil-awwalīn

Bukankah telah Kami binasakan orang-orang yang dahulu?

ثُمَّ نُتْبِعُهُمُ الْاٰخِرِيْنَ

ṡumma nutbi’uhumul-ākhirīn

Lalu Kami susulkan (azab Kami terhadap) orang-orang yang datang kemudian.

كَذٰلِكَ نَفْعَلُ بِالْمُجْرِمِيْنَ

każālika naf’alu bil-mujrimīn

Demikianlah Kami perlakukan orang-orang yang berdosa.

وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran).

اَلَمْ نَخْلُقْكُّمْ مِّنْ مَّاۤءٍ مَّهِيْنٍۙ

a lam nakhlukkum mim mā`im mahīn

Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina (mani),

فَجَعَلْنٰهُ فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ

fa ja’alnāhu fī qarārim makīn

kemudian Kami letakkan ia dalam tempat yang kokoh (rahim),

اِلٰى قَدَرٍ مَّعْلُوْمٍۙ

ilā qadarim ma’lụm

sampai waktu yang ditentukan,

فَقَدَرْنَاۖ فَنِعْمَ الْقٰدِرُوْنَ

fa qadarnā fa ni’mal-qādirụn

lalu Kami tentukan (bentuknya), maka (Kamilah) sebaik-baik yang menentukan.

وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran).

اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ كِفَاتًاۙ

a lam naj’alil-arḍa kifātā

Bukankah Kami jadikan bumi untuk (tempat) berkumpul,

اَحْيَاۤءً وَّاَمْوَاتًاۙ

aḥyā`aw wa amwātā

bagi yang masih hidup dan yang sudah mati?

وَّجَعَلْنَا فِيْهَا رَوَاسِيَ شٰمِخٰتٍ وَّاَسْقَيْنٰكُمْ مَّاۤءً فُرَاتًاۗ

wa ja’alnā fīhā rawāsiya syāmikhātiw wa asqainākum mā`an furātā

Dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan Kami beri minum kamu dengan air tawar?

وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran).

اِنْطَلِقُوْٓا اِلٰى مَا كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَۚ

inṭaliqū ilā mā kuntum bihī tukażżibụn

(Akan dikatakan), “Pergilah kamu mendapatkan apa (azab) yang dahulu kamu dustakan.

اِنْطَلِقُوْٓا اِلٰى ظِلٍّ ذِيْ ثَلٰثِ شُعَبٍ

inṭaliqū ilā ẓillin żī ṡalāṡi syu’ab

Pergilah kamu mendapatkan naungan (asap api neraka) yang mempunyai tiga cabang,

لَا ظَلِيْلٍ وَّلَا يُغْنِيْ مِنَ اللَّهَبِۗ

lā ẓalīliw wa lā yugnī minal-lahab

yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka.”

اِنَّهَا تَرْمِيْ بِشَرَرٍ كَالْقَصْرِۚ

innahā tarmī bisyararing kal-qaṣr

Sungguh, (neraka) itu menyemburkan bunga api (sebesar dan setinggi) istana,

كَاَنَّهٗ جِمٰلَتٌ صُفْرٌۗ

ka`annahụ jimālatun ṣufr

seakan-akan iring-iringan unta yang kuning.

وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran).

هٰذَا يَوْمُ لَا يَنْطِقُوْنَۙ

hāżā yaumu lā yanṭiqụn

Inilah hari, saat mereka tidak dapat berbicara,

وَلَا يُؤْذَنُ لَهُمْ فَيَعْتَذِرُوْنَ

wa lā yu`żanu lahum fa ya’tażirụn

dan tidak diizinkan kepada mereka mengemukakan alasan agar mereka dimaafkan.

وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran).

هٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ جَمَعْنٰكُمْ وَالْاَوَّلِيْنَ

hāżā yaumul-faṣli jama’nākum wal-awwalīn

Inilah hari keputusan; (pada hari ini) Kami kumpulkan kamu dan orang-orang yang terdahulu.

فَاِنْ كَانَ لَكُمْ كَيْدٌ فَكِيْدُوْنِ

fa ing kāna lakum kaidun fa kīdụn

Maka jika kamu punya tipu daya, maka lakukanlah (tipu daya) itu terhadap-Ku.

وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran).

اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ ظِلٰلٍ وَّعُيُوْنٍۙ

innal-muttaqīna fī ẓilāliw wa ‘uyụn

Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (pepohonan surga yang teduh) dan (di sekitar) mata air,

وَّفَوَاكِهَ مِمَّا يَشْتَهُوْنَۗ

wa fawākiha mimmā yasytahụn

dan buah-buahan yang mereka sukai.

كُلُوْا وَاشْرَبُوْا هَنِيْۤـًٔا ۢبِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

kulụ wasyrabụ hanī`am bimā kuntum ta’malụn

(Katakan kepada mereka), “Makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.”

اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

innā każālika najzil-muḥsinīn

Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran).

كُلُوْا وَتَمَتَّعُوْا قَلِيْلًا اِنَّكُمْ مُّجْرِمُوْنَ

kulụ wa tamatta’ụ qalīlan innakum mujrimụn

(Katakan kepada orang-orang kafir), “Makan dan bersenang-senanglah kamu (di dunia) sebentar, sesungguhnya kamu orang-orang durhaka!”

وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran).

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ ارْكَعُوْا لَا يَرْكَعُوْنَ

wa iżā qīla lahumurka’ụ lā yarka’ụn

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Rukuklah,” mereka tidak mau rukuk.

وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran)!

فَبِاَيِّ حَدِيْثٍۢ بَعْدَهٗ يُؤْمِنُوْنَ ۔

fa bi`ayyi ḥadīṡim ba’dahụ yu`minụn

Maka kepada ajaran manakah (selain Al-Qur’an) ini mereka akan beriman?

Tafsir Surat Al Mursalat

  1. (Demi angin yang bertiup sepoi-sepoi) yang bertiup secara beruntun bagaikan beruntunnya susunan rambut kuda yang satu sama lainnya saling beriring-iringan. Dinashabkan karena menjadi Haal atau kata keterangan keadaan.
  2. (Dan demi angin yang bertiup dengan kencang) yang bertiup sangat kencang.
  3. (Dan demi angin yang menyebarkan rahmat) yaitu angin yang menyebarkan hujan.
  4. (Dan demi yang membedakan sejelas-jelasnya) maksudnya, demi ayat-ayat Alquran yang membedakan antara perkara yang hak dan perkara yang batil, serta yang membedakan antara perkara yang halal dan perkara yang haram.
  5. (Dan demi malaikat-malaikat yang menyampaikan peringatan) yakni malaikat-malaikat yang turun untuk menyampaikan wahyu kepada para nabi dan para rasul supaya wahyu tersebut disampaikan kepada umat-umat manusia.
  6. (Untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan-peringatan) dari Allah swt. Menurut suatu qiraat dibaca ‘Udzuran dan Nudzuran, dengan memakai harakat damah pada kedua huruf Dzalnya.
  7. (Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepada kalian itu) hai orang-orang kafir Mekah, yaitu mengenai hari berbangkit dan azab yang akan menimpa kalian (pasti terjadi) pasti akan terjadi.
  8. (Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan) dihilangkan cahayanya.
  9. (Dan apabila langit dibelah) atau menjadi terbelah.
  10. (Dan apabila gunung-gunung telah dihancurkan) diletuskan hingga menjadi debu yang beterbangan.
  11. (Dan apabila rasul-rasul telah dikumpulkan di dalam suatu waktu) memakai Wau dan Hamzah sebagai Badal daripadanya yaitu, pada satu ketika rasul-rasul akan dikumpulkan.
  12. (Sampai hari kapankah) yakni hari yang besar (ditangguhkan) persaksian terhadap umat-umat mereka tentang penyampaian mereka?
  13. (Sampai hari keputusan) di antara semua makhluk; dari pengertian ayat inilah diambil kesimpulan bagi Jawab lafal Idzaa yakni, terjadilah keputusan di antara semua makhluk.
  14. (Dan tahukah kamu apakah hari keputusan itu?) ayat ini menggambarkan tentang kengerian yang terdapat di dalam hari tersebut.
  15. (Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan) ayat ini mengandung makna ancaman bagi mereka yang tidak mempercayainya.
  16. (Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang yang dahulu?) disebabkan kedustaan mereka.
  17. (Lalu Kami iringi mereka dengan orang-orang yang datang kemudian) di antara orang-orang yang mendustakan seperti orang-orang kafir Mekah, maka Kami kelak akan membinasakan mereka pula.
  18. (Demikianlah) sebagaimana Kami lakukan terhadap orang-orang yang mendustakan (Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa) artinya, Kami akan melakukan hal yang sama terhadap orang-orang yang berdosa yang kelak akan datang, yaitu Kami pasti akan membinasakan mereka.
  19. (Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan) sebagai pengukuh terhadap ayat sebelumnya.
  20. (Bukankah Kami menciptakan kalian dari air yang hina?) yang lemah, yaitu air mani.
  21. (Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh) tempat yang terpelihara, yaitu dalam rahim.
  22.  (Sampai waktu yang ditentukan) yaitu sampai waktu kelahirannya.
  23. (Lalu Kami tentukan) waktu tersebut (maka sebaik-baik yang menentukan) adalah Kami.
  24. (Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.)
  25. (Bukankah Kami menjadikan bumi tempat berkumpul) lafal Kifaatan adalah Mashdar dari lafal Kafata yang artinya berkumpul atau tempat untuk berkumpul.
  26. (Orang-orang hidup) pada permukaannya (dan orang-orang mati) yang ada pada perutnya.
  27. (Dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi) gunung-gunung yang menjulang tinggi (dan Kami beri minum kalian dengan air yang tawar) air yang segar dan tawar.
  28. (Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan) kemudian pada hari kiamat dikatakan kepada orang-orang yang mendustakan:
  29. (“Pergilah kamu sekalian mendapatkan azab yang dahulunya kalian mendustakannya.)
  30.  (Pergilah kalian mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang) yang dimaksud adalah asap neraka Jahanam, apabila membubung terbagi menjadi tiga, karena sangat besarnya.
  31.  (Yang tidak melindungi) asap itu tidak dapat menaungi mereka dari panas hari itu (dan tiada bermanfaat) barang sedikit pun bagi mereka (untuk menolak api”) yakni api neraka.
  32. (Sesungguhnya neraka itu) maksudnya, api neraka itu (melontarkan bunga api) memercikkan bunga api (sebesar istana) yakni besar dan tingginya bagaikan istana.
  33. (Seolah-olah ia iringan unta) lafal Jimaalaatun bentuk jamak dari lafal Jimaalah, juga lafal Jimaalah ini adalah bentuk jamak dari lafal Jamalun. Menurut suatu qiraat dibaca Jimaalatun (yang kuning kehitam-hitaman) perwujudan dan warnanya. Di dalam sebuah hadis disebutkan: “Manusia yang paling buruk ialah yang hitam bagaikan aspal.” Orang-orang Arab menamakan unta yang berwarna hitam unta kuning, demikian itu karena warna hitamnya dicampuri dengan warna kuning. Tetapi menurut pendapat yang lain bahwa arti lafal Shufrun dalam ayat ini adalah hitam, karena alasan yang telah disebutkan tadi, tetapi menurut pendapat lainnya lagi bermakna kuning. Lafal Syararun adalah bentuk jamak dari lafal Syaraarah artinya percikan atau bunga api; dan lafal Al-Qiiru/Al-Qaaru artinya belakin atau aspal.
  34. (Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.)
  35. (Ini) yakni hari kiamat ini (adalah hari yang mereka tidak dapat berbicara) sepatah kata pun.
  36. (Dan tidak diizinkan kepada mereka) mengemukakan alasannya (sehingga mereka dapat mengemukakan alasannya) lafal Faya’tadziruuna di’athafkan kepada lafal Yu’dzanu tanpa ada penyebab yang mengaitkannya, tetapi tetap termasuk ke dalam pengertian negatif. Artinya tiada berkenan bagi mereka untuk berbicara, maka tiada alasan bagi mereka.
  37. (Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.)
  38. (Ini adalah hari keputusan; Kami mengumpulkan kalian) hai orang-orang yang mendustakan dari kalangan umat ini, yakni umat Nabi Muhammad (dan orang-orang yang terdahulu) dari kalangan orang-orang yang mendustakan sebelum kalian; lalu kalian semuanya akan dihisab kemudian diazab.
  39. (Jika kalian mempunyai tipu daya) tipu muslihat untuk melindungi diri kalian dari azab (maka lakukanlah tipu daya kalian itu terhadap-Ku) perbuatlah tipu daya kalian itu.
  40. (Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.)
  41. (Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan) berada dalam naungan pohon-pohon, yang pada hari itu bukan main panasnya, padahal tiada matahari (dan mata air-mata air) yang mengalir.
  42. (Dan mendapat buah-buahan dari jenis-jenis yang mereka sukai) di dalam ungkapan ayat ini terkandung pengertian bahwa makanan dan minuman di surga sesuai dengan selera penghuninya masing-masing. Berbeda dengan keadaan di dunia, makanan dan minuman sesuai dengan kemampuan masing-masing. Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa itu:
  43. (“Makan dan minumlah kalian dengan enak) lafal Haniian merupakan Haal atau kata keterangan keadaan, yakni makan dan minumlah dengan seenak-enaknya (karena apa yang telah kalian kerjakan”) berupa ketaatan.
  44. (Sesungguhnya demikianlah Kami) sebagaimana Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang takwa (memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.)
  45. (Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.)
  46.  (“Makanlah dan bersenang-senanglah kamu sekalian) khithab atau perintah ini ditujukan kepada orang-orang kafir di dunia (dalam waktu yang pendek) waktu yang singkat; yang batasnya adalah kematian mereka. Di dalam ungkapan ini terkandung makna ancaman terhadap mereka (sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang berdosa.”)
  47. (Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.)
  48. (Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Rukuklah”) yakni salatlah kalian (niscaya mereka tidak mau rukuk) tidak mau salat.
  49. (Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.)
  50. (Maka kepada perkataan apakah sesudah ini) sesudah Alquran ini (mereka akan beriman?) maksudnya, tidak mungkin mereka akan beriman kepada kitab-kitab Allah lainnya sesudah mereka mendustakannya, karena di dalam Alquran terkandung unsur I’jaz atau mukjizat yang tidak terdapat pada kitab-kitab Allah lainnya.

Demikian ulasan lengkap mengenai Surat Al Mursalat lengkap dengan kisah asbabun nuzul, kandungan, dan fadhilahnya. Semoga artikel ini bermanfaat, terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *