Teks Bacaan Surat Al Qalam (Pena) Arab Latin Indonesia dan Arti Terjemahannya

12 min read

Surat Al Qalam yang artinya adalah ‘’Pena ‘’merupakan  surat ke 68 di dalam Al Quran. Surat yang terdiri dari 52 ayat ini termasuk ke dalam surat Makkiyah karena diturunkan di kota Mekah. Surat Al Qalam memiliki bacaan ayat Al Quran dengan 2 ruku’ yang berada di jus 29. Nama Al Qalam diambil dari sebuah kata yang terdapat di dalam ayat pertama yaitu Al Qalah yang artinya adalah Pena. Surat ini memiliki nama lain surat Nun karena diawali dengan hurud tersebut.

Teks Bacaan Surat Al Qalam (Pena) Arab Latin Indonesia Dan Arti Terjemahannya
Teks Bacaan Surat Al Qalam (Pena) Arab Latin Indonesia Dan Arti Terjemahannya

Serupa dengan surat Al Quran yang lain, Surat Al Qalam ini juga mengandung banyak sekali keutamaan yang patut untuk diteladani. Untuk lebih jelasnya, berikut kami ulas mengenai asbabun nuzul, kandungan, dan fadhillah dari Surat Al Qalam ini.

Asbabun Nuzul Surat Al Qalam

Asbabun nuzul Surat Al Qalam dilatar belakangi oleh kisah nabi Muhammad SAW yang mengalami berbagai cobaan dalam melakukan dakwah. Cobaan tersebut berupa ancaman dan terror dalam bentuk fisik dan psikis. Tak hanya untuk beliau, terror tersebut juga diberikan kepada seluruh kaum yang mengikuti ajarannya. Salah satu bentuk tekanan psikis yang dterima oleh nabi Muhamamd SAW adalah julukan gila.

Padahal nabi Muhammad SAW sendiri adalah seorang rasul Allah yang diberi gelar ulul azmi atau yang dipercaya. Sebagai bentuk dukungan dan pembelaan kepada nabi Muhammad SAW, Allah SWT menurunkan Surat Al Qalam ayat empat yang berbunyi:

‘’lalu sesungguhnya ia adalah seorang rasul yang berbudi pekerti yang benar-benar agung’’ (Q.S Al Qalam 68: 4).

Maka dari itu, tidak ada alasan bagi rasulullah SAW untuk bersedih secara berlarut-larut karena memikirkan cemoohan yang diberikan oleh kaum kafir Quraisy. Allah SWT menjanjikan apabila waktunya tiba akan terlihat orang  yang benar-benar gila. Sesungguhnya Allah SWT lah yang maha mengetahui.

Kandungan Surat Al Qalam

  • Para Pencela dan Pendusta Nabi Muhamamd SAW

Surat Al Qalam sebagai wadah bagi Allah SWT untuk menyampaikan peringatan kepada kaum muslim untuk tidak mengikuti seruan orang yang mendustakan agama. Allah SWT juga melarang untuk mengikuti perbuatan kaum kafir Quraisy yang mencela dan mencaci nabi Muhammad SAW. Bukan hanya untuk rasulullah SAW, larangan ini juga berlaku bagi seluruh kaum mukmin di dunia ini.

  • Kisah Pemilik Kebun

Surat Al Qalam juga memiliki kandungan tentang kisah pemilik kebun. Allah SWT menurunkan adzab bagi mereka karena mencela dan mengejek rasulullah SAW. Selain itu, mereka juga menjual seluruh hasil panennya untuk meraup keuntungan yang besar tanpa menyisakan sedikit pun untuk kaum fakir miskin dan dhuafa.

  • Kabar Gembira

Allah SWT juga menyampaikan kabar gembira di dalam Surat Al Qalam bahwasanya siapa saja orang yang meyakini dan mengikuti ajaran nabi Muhammad SAW akan disediakan surga yang indah dan tenang.

Fadhilah Surat Al Qalam

  • Syafaat di Hari Kiamat

Fadhilah pertama dari Surat Al Qalam adalah diberikan syafaat di hari kiamat. Hal ini tercantum dalam hadist yang diriwayatkan oleh Muslim yang berbunyi:

‘’bacalah kita suci Al Quran karena sebenarnya Al Quran akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat atau pertolongan bagi siapa saja yang membacanya.

  • Hal yang lebih tenang

Fadhilah kedua dari Surat Al Qalam adalah diberikan hati yang tenang dan bahagia apabila membaca surat ini setiap hari secara istiqomah.

Teks Bacaan Surat Al Qalam Arab, Latin dan Terjemahan

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

 

نۤ ۚوَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَۙ

nūn, wal-qalami wa mā yasṭurụn

Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan,

مَآ اَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُوْنٍ

mā anta bini’mati rabbika bimajnụn

dengan karunia Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah orang gila.

وَاِنَّ لَكَ لَاَجْرًا غَيْرَ مَمْنُوْنٍۚ

wa inna laka la`ajran gaira mamnụn

Dan sesungguhnya engkau pasti mendapat pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

wa innaka la’alā khuluqin ‘aẓīm

Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.

فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُوْنَۙ

fa satubṣiru wa yubṣirụn

Maka kelak engkau akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat,

بِاَيِّىكُمُ الْمَفْتُوْنُ

bi`ayyikumul-maftụn

siapa di antara kamu yang gila?

اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖۖ

وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

inna rabbaka huwa a’lamu biman ḍalla ‘an sabīlihī wa huwa a’lamu bil-muhtadīn

Sungguh, Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang mendapat petunjuk.

فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِيْنَ

fa lā tuṭi’il-mukażżibīn

Maka janganlah engkau patuhi orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).

وَدُّوْا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُوْنَۚ

waddụ lau tud-hinu fa yud-hinụn

Mereka menginginkan agar engkau bersikap lunak maka mereka bersikap lunak (pula).

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِيْنٍۙ

wa lā tuṭi’ kulla ḥallāfim mahīn

Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina,

هَمَّازٍ مَّشَّاۤءٍۢ بِنَمِيْمٍۙ

hammāzim masysyā`im binamīm

suka mencela, yang kian ke mari menyebarkan fitnah,

مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ

mannā’il lil-khairi mu’tadin aṡīm

yang merintangi segala yang baik, yang melampaui batas dan banyak dosa,

عُتُلٍّۢ بَعْدَ ذٰلِكَ زَنِيْمٍۙ

‘utullim ba’da żālika zanīm

yang bertabiat kasar, selain itu juga terkenal kejahatannya,

اَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَّبَنِيْنَۗ

ang kāna żā māliw wa banīn

karena dia kaya dan banyak anak.

اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ

iżā tutlā ‘alaihi āyātunā qāla asāṭīrul-awwalīn

Apabila ayat-ayat Kami dibacakan kepadanya, dia berkata, “(Ini adalah) dongeng-dongeng orang dahulu.”

سَنَسِمُهٗ عَلَى الْخُرْطُوْمِ

sanasimuhụ ‘alal-khurṭụm

Kelak dia akan Kami beri tanda pada belalai(nya).

اِنَّا بَلَوْنٰهُمْ كَمَا بَلَوْنَآ اَصْحٰبَ الْجَنَّةِۚ

اِذْ اَقْسَمُوْا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِيْنَۙ

innā balaunāhum kamā balaunā aṣ-ḥābal-jannah, iż aqsamụ layaṣrimunnahā muṣbiḥīn

Sungguh, Kami telah menguji mereka (orang musyrik Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah pasti akan memetik (hasil)nya pada pagi hari,

وَلَا يَسْتَثْنُوْنَ

wa lā yastaṡnụn

tetapi mereka tidak menyisihkan (dengan mengucapkan, “Insya Allah”).

فَطَافَ عَلَيْهَا طَاۤىِٕفٌ مِّنْ رَّبِّكَ وَهُمْ نَاۤىِٕمُوْنَ

fa ṭāfa ‘alaihā ṭā`ifum mir rabbika wa hum nā`imụn

Lalu kebun itu ditimpa bencana (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur.

فَاَصْبَحَتْ كَالصَّرِيْمِۙ

fa aṣbaḥat kaṣ-ṣarīm

Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita,

فَتَنَادَوْا مُصْبِحِيْنَۙ

fa tanādau muṣbiḥīn

lalu pada pagi hari mereka saling memanggil.

اَنِ اغْدُوْا عَلٰى حَرْثِكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صَارِمِيْنَ

anigdụ ‘alā ḥarṡikum ing kuntum ṣārimīn

”Pergilah pagi-pagi ke kebunmu jika kamu hendak memetik hasil.”

فَانْطَلَقُوْا وَهُمْ يَتَخَافَتُوْنَۙ

fanṭalaqụ wa hum yatakhāfatụn

Maka mereka pun berangkat sambil berbisik-bisik.

اَنْ لَّا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِّسْكِيْنٌۙ

al lā yadkhulannahal-yauma ‘alaikum miskīn

”Pada hari ini jangan sampai ada orang miskin masuk ke dalam kebunmu.”

وَّغَدَوْا عَلٰى حَرْدٍ قَادِرِيْنَ

wa gadau ‘alā ḥarding qādirīn

Dan berangkatlah mereka pada pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya).

فَلَمَّا رَاَوْهَا قَالُوْٓا اِنَّا لَضَاۤلُّوْنَۙ

fa lammā ra`auhā qālū innā laḍāllụn

Maka ketika mereka melihat kebun itu, mereka berkata, “Sungguh, kita ini benar-benar orang-orang yang sesat,

بَلْ نَحْنُ مَحْرُوْمُوْنَ

bal naḥnu maḥrụmụn

bahkan kita tidak memperoleh apa pun,”

قَالَ اَوْسَطُهُمْ اَلَمْ اَقُلْ لَّكُمْ لَوْلَا تُسَبِّحُوْنَ

qāla ausaṭuhum a lam aqul lakum lau lā tusabbiḥụn

berkatalah seorang yang paling bijak di antara mereka, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, mengapa kamu tidak bertasbih (kepada Tuhanmu).”

قَالُوْا سُبْحٰنَ رَبِّنَآ اِنَّا كُنَّا ظٰلِمِيْنَ

qālụ sub-ḥāna rabbinā innā kunnā ẓālimīn

Mereka mengucapkan, “Mahasuci Tuhan kami, sungguh, kami adalah orang-orang yang zalim.”

فَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَلَاوَمُوْنَ

fa aqbala ba’ḍuhum ‘alā ba’ḍiy yatalāwamụn

Lalu mereka saling berhadapan dan saling menyalahkan.

قَالُوْا يٰوَيْلَنَآ اِنَّا كُنَّا طٰغِيْنَ

qālụ yā wailanā innā kunnā ṭāgīn

Mereka berkata, “Celaka kita! Sesungguhnya kita orang-orang yang melampaui batas.

عَسٰى رَبُّنَآ اَنْ يُّبْدِلَنَا خَيْرًا مِّنْهَآ اِنَّآ اِلٰى رَبِّنَا رَاغِبُوْنَ

‘asā rabbunā ay yubdilanā khairam min-hā innā ilā rabbinā rāgibụn

Mudah-mudahan Tuhan memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada yang ini, sungguh, kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita.”

كَذٰلِكَ الْعَذَابُۗ

وَلَعَذَابُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

każālikal-‘ażāb, wa la’ażābul-ākhirati akbar, lau kānụ ya’lamụn

Seperti itulah azab (di dunia). Dan sungguh, azab akhirat lebih besar se-kiranya mereka mengetahui.

اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ

inna lil-muttaqīna ‘inda rabbihim jannātin na’īm

Sungguh, bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya.

اَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِيْنَ كَالْمُجْرِمِيْنَۗ

a fa naj’alul-muslimīna kal-mujrimīn

Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang yang berdosa (orang kafir)?

مَا لَكُمْۗ كَيْفَ تَحْكُمُوْنَۚ

mā lakum, kaifa taḥkumụn

Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?

اَمْ لَكُمْ كِتٰبٌ فِيْهِ تَدْرُسُوْنَۙ

am lakum kitābun fīhi tadrusụn

Atau apakah kamu mempunyai kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu pelajari?

اِنَّ لَكُمْ فِيْهِ لَمَا تَخَيَّرُوْنَۚ

inna lakum fīhi lamā takhayyarụn

sesungguhnya kamu dapat memilih apa saja yang ada di dalamnya.

اَمْ لَكُمْ اَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِۙ

اِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُوْنَۚ

am lakum aimānun ‘alainā bāligatun ilā yaumil-qiyāmati inna lakum lamā taḥkumụn

Atau apakah kamu memperoleh (janji-janji yang diperkuat dengan) sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari Kiamat; bahwa kamu dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)?

سَلْهُمْ اَيُّهُمْ بِذٰلِكَ زَعِيْمٌۚ

sal-hum ayyuhum biżālika za’īm

Tanyakanlah kepada mereka, “Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap (keputusan yang diambil itu)?”

اَمْ لَهُمْ شُرَكَاۤءُۚ فَلْيَأْتُوْا بِشُرَكَاۤىِٕهِمْ اِنْ كَانُوْا صٰدِقِيْنَ

am lahum syurakā`, falya`tụ bisyurakā`ihim ing kānụ ṣādiqīn

Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Kalau begitu hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutunya jika mereka orang-orang yang benar.

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَّيُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَۙ

yauma yuksyafu ‘an sāqiw wa yud’auna ilas-sujụdi fa lā yastaṭī’ụn

(Ingatlah) pada hari ketika betis disingkapkan dan mereka diseru untuk bersujud; maka mereka tidak mampu,

خَاشِعَةً اَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۗ

وَقَدْ كَانُوْا يُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ وَهُمْ سَالِمُوْنَ

khāsyi’atan abṣāruhum tar-haquhum żillah, wa qad kānụ yud’auna ilas-sujụdi wa hum sālimụn

pandangan mereka tertunduk ke bawah, diliputi kehinaan. Dan sungguh, dahulu (di dunia) mereka telah diseru untuk bersujud pada waktu mereka sehat (tetapi mereka tidak melakukan).

فَذَرْنِيْ وَمَنْ يُّكَذِّبُ بِهٰذَا الْحَدِيْثِۗ

سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

fa żarnī wa may yukażżibu bihāżal-ḥadīṡ, sanastadrijuhum min ḥaiṡu lā ya’lamụn

Maka serahkanlah kepada-Ku (urusannya) dan orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Qur’an). Kelak akan Kami hukum mereka berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka ketahui,

وَاُمْلِيْ لَهُمْۗ

اِنَّ كَيْدِيْ مَتِيْنٌ

wa umlī lahum, inna kaidī matīn

dan Aku memberi tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh.

اَمْ تَسْـَٔلُهُمْ اَجْرًا فَهُمْ مِّنْ مَّغْرَمٍ مُّثْقَلُوْنَۚ

am tas`aluhum ajran fa hum mim magramim muṡqalụn

Ataukah engkau (Muhammad) meminta imbalan kepada mereka, sehingga mereka dibebani dengan utang?

اَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُوْنَ

am ‘indahumul-gaibu fa hum yaktubụn

Ataukah mereka mengetahui yang gaib, lalu mereka menuliskannya?

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوْتِۘ اِذْ نَادٰى وَهُوَ مَكْظُوْمٌۗ

faṣbir liḥukmi rabbika wa lā takung kaṣāḥibil-ḥụt, iż nādā wa huwa makẓụm

Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau seperti (Yunus) orang yang berada dalam (perut) ikan ketika dia berdoa dengan hati sedih.

لَوْلَآ اَنْ تَدَارَكَهٗ نِعْمَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ لَنُبِذَ بِالْعَرَاۤءِ وَهُوَ مَذْمُوْمٌ

lau lā an tadārakahụ ni’matum mir rabbihī lanubiża bil-‘arā`i wa huwa mażmụm

Sekiranya dia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, pastilah dia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela.

فَاجْتَبٰىهُ رَبُّهٗ فَجَعَلَهٗ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

fajtabāhu rabbuhụ fa ja’alahụ minaṣ-ṣāliḥīn

Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang yang saleh.

وَاِنْ يَّكَادُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَيُزْلِقُوْنَكَ

بِاَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ

وَيَقُوْلُوْنَ اِنَّهٗ لَمَجْنُوْنٌ ۘ

wa iy yakādullażīna kafarụ layuzliqụnaka bi`abṣārihim lammā sami’uż-żikra wa yaqụlụna innahụ lamajnụn

Dan sungguh, orang-orang kafir itu hampir-hampir menggelincirkanmu dengan pandangan mata mereka, ketika mereka mendengar Al-Qur’an dan mereka berkata, “Dia (Muhammad) itu benar-benar orang gila.”

وَمَا هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَ

wa mā huwa illā żikrul lil-‘ālamīn

Padahal (Al-Qur’an) itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam.

Tafsir Surat Surat Al Qalam Al-Jalalain

 01. (Nun) adalah salah satu dari huruf hijaiah, hanya Allahlah yang mengetahui arti dan maksudnya (demi qalam) yang dipakai untuk menulis nasib semua makhluk di Lohmahfuz (dan apa yang mereka tulis) apa yang ditulis oleh para malaikat berupa kebaikan dan kesalehan.

02. (Kamu sekali-kali bukanlah) hai Muhammad (orang gila, berkat nikmat Rabbmu) yang telah mengaruniakan kenabian kepadamu, dan juga nikmat-nikmat-Nya yang lain. Ayat ini merupakan jawaban terhadap perkataan orang-orang kafir, yang mengatakan bahwa Muhammad adalah orang gila.

03. (Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya) tiada pernah terputus.

04. (Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti) beragama (yang agung.)

05. (Maka kelak kamu akan melihat dan mereka pun akan melihat.)

06. (Siapakah di antara kalian yang gila) yang tidak waras akalnya, kamukah atau mereka. Lafal al-maftuun ini wazannya sama dengan lafal al-ma`quul, berasal dari mashdar al-futuun, artinya gila.

07. (Sesungguhnya Rabbmu, Dialah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang Paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk) lafal a`lamu di sini bermakna ‘aalimun, yakni Dia mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

08. (Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah.)

09. (Mereka menginginkan) mengharapkan (supaya) merupakan mashdariyah (kamu bersikap lunak) bersikap lembut terhadap mereka (lalu mereka bersikap lunak) pula terhadapmu; diathafkan kepada lafal tudhinu. Seandainya dijadikan sebagai jawab dari tamanni yang tersimpulkan dari lafal wadduu, maka sebelum huruf fa diperkirakan adanya lafal hum. Yakni, seandainya kamu bersikap lunak terhadap mereka, maka mereka pun akan bersikap lunak pula terhadapmu.

010. (Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah) dengan cara yang batil (lagi hina) yakni rendah.

011. (Yang banyak mencela) atau sering mengumpat (yang kian ke mari menghambur fitnah) yakni berjalan ke sana dan ke mari di antara orang-orang dengan maksud merusak mereka, yakni menghasut mereka.

012. (Yang banyak menghalangi perbuatan baik) artinya sangat kikir tidak mau membelanjakan hartanya kepada hak-hak yang diwajibkan atas dirinya (yang melampaui batas) sangat aniaya (lagi banyak dosa) banyak melakukan perbuatan dosa.

013. (Yang kaku kasar) wataknya kaku lagi kasar (selain dari itu, yang terkenal kejahatannya) dia adalah seseorang yang dianggap sebagai orang Quraisy, padahal dia bukan dari kalangan mereka, yaitu Walid bin Mughirah. Ayahnya menjulukinya sebagai orang Quraisy setelah ia berumur delapan belas tahun. Ibnu Abbas r.a. mengatakan, bahwa kami belum pernah mengetahui, bahwa Allah swt. menyifati seseorang dengan sifat-sifat yang tercela sebagaimana yang telah dilakukan-Nya terhadap Walid, sehingga keaiban itu tetap menempel pada diri Walid untuk selama-lamanya. Dan bertaalluq kepada lafal zaniim, zharaf yang terdapat pada sebelumnya.

014. (Karena dia mempunyai banyak harta dan anak) bentuk asalnya adalah lian, dan bertaalluq kepada makna yang menunjukkan terhadap pengertiannya.

015. (Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami) yakni Alquran (ia berkata) bahwa Alquran itu (dongeng-dongengan orang- orang dahulu kala.”) Yaitu hanyalah kedustaan yang sengaja dibuat-buat guna menyenangkan hati kami sewaktu ia disebutkan atau diceritakan. Menurut suatu qiraat ada lafal a-an dengan memakai dua huruf Hamzah yang kedua-duanya difathahkan.

016. (Kelak akan Kami beri tanda dia di belalainya) Kami akan menjadikan tanda pada hidungnya, yang menyebabkannya cacat seumur hidup. Maka dia terpotong-potong hidungnya ketika perang Badar.

017. (Sesungguhnya Kami telah mencoba mereka) Kami telah menguji orang-orang musyrik Mekah dengan paceklik dan kelaparan (sebagaimana Kami telah mencoba pemilik-pemilik kebun) atau ladang (ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik hasilnya) akan memetik buahnya (di pagi hari) di pagi buta, supaya orang-orang miskin tidak mengetahuinya. Maka orang-orang yang memiliki kebun itu mempunyai alasan bila mereka tidak memberikan sedekah kepada mereka; tidak sebagaimana bapak-bapak mereka yang selalu memberikan sebagian dari hasilnya buat orang-orang miskin sebagai sedekahnya.

018. (Dan mereka tidak mengecualikan) di dalam sumpah mereka itu kepada kehendak Allah swt. Ayat ini merupakan jumlah isti’naf atau kalimat permulaan; yakni, kelakuan mereka seperti itu; mereka tidak pernah menggantungkan sumpahnya itu kepada kehendak Allah swt.

019. (Lalu kebun itu diliputi malapetaka dari Rabbmu) berupa api yang melahap kesemuanya di waktu malam (ketika mereka sedang tidur.)

020. (Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita) yakni menjadi hangus terbakar semuanya, sehingga tampak hitam.

021. (Lalu mereka panggil-memanggil di pagi hari.)

022. (“Pergilah di waktu pagi ini ke kebun kalian) ke ladang kalian; lafal ini menafsirkan pengertian yang terkandung di dalam lafal tanadauw; atau huruf an dianggap sebagai an mashdariyah (jika kalian hendak memetik buahnya”) ingin memetik hasilnya; jawab syaratnya ditunjukkan oleh pengertian kalimat sebelumnya.

023. (Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan) yakni dengan secara diam-diam.

024. (“Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebun kalian.”) Ayat ini merupakan penafsiran dari makna yang terkandung pada ayat sebelumnya; atau huruf an dianggap sebagai huruf mashdariyah.

025. (Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi) orang-orang miskin (seraya merasa mampu) yakni mampu untuk menghalangi orang-orang miskin, menurut dugaan mereka sendiri.

026. (Tatkala mereka melihat kebun itu) dalam keadaan hangus terbakar (mereka berkata, “Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat.”) Bukankah ini kebun kita. Kemudian setelah mereka mengetahui, bahwa itu adalah benar-benar kebun mereka, lalu mereka mengatakan:

027. (Bahkan kita dihalangi) dari memperoleh buahnya disebabkan kita telah menghalang-halangi orang-orang miskin dari memperoleh bagiannya.

028. (Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka) yaitu orang yang terbaik di antara mereka (“Bukankah aku mengatakan kepada kalian, mengapa tidak) kenapa tidak (kalian bertasbih?”) kepada Allah seraya bertobat kepada-Nya.

029. (Mereka mengucapkan, “Maha Suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.”) Karena kami telah menghalang-halangi orang-orang miskin dari haknya.

030. (Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela.)

031. (Mereka berkata, “Aduhai) huruf ya di sini bermakna tanbih (celakalah kita) binasalah kita (sesungguhnya kita ini benar- benar orang-orang yang melampaui batas.)

032. (Mudah-mudahan Rabb kita memberikan ganti kepada kita) dapat dibaca yubdilanaa dan yubaddilanaa (yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.”) Supaya Dia menerima tobat kita dan mendatangkan kepada kita kebun yang lebih baik dari kebun kita yang dahulu. Menurut suatu riwayat disebutkan, bahwa setelah itu mereka diberi kebun yang lebih baik dari yang semula.

033. (Seperti itulah) sebagaimana azab Kami kepada mereka (azab) di dunia, bagi orang yang menentang perintah Kami dari kalangan orang-orang kafir Mekah dan lain-lainnya. (Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui) jika mereka mengetahuinya, niscaya mereka tidak akan menentang perintah Kami. Ayat ini diturunkan sewaktu orang-orang kafir Mekah mengatakan, bahwa jika Dia membangkitkan kami, niscaya kami akan diberi pahala yang lebih baik daripada kalian.

034. (Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Rabbnya.)

035. (Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa?) maksudnya mendapatkan pahala yang sama dengan orang-orang kafir.

036. (Mengapa kalian berbuat demikian; bagaimanakah kalian mengambil keputusan?) dengan keputusan yang rusak ini?

037. (Atau adakah) artinya, benarkah (kalian mempunyai kitab) yang diturunkan dari Allah (yang kalian mempelajarinya) yang kalian membacanya.

038. (Bahwa di dalamnya kalian benar-benar boleh memilih apa yang kalian sukai) kalian boleh memilih sesuka hati.

039. (Atau apakah kalian memperoleh janji-janji) perjanjian-perjanjian (yang diperkuat dengan sumpah dari Kami) yang telah diperkuat oleh Kami (yang tetap berlaku sampai hari kiamat) lafal ilaa yaumil qiyaamah ini bertaalluq kepadanya makna yang terkandung di dalam lafal ‘alainaa, dan di dalam kalam ini terkandung makna qasam atau sumpah, yakni Kami telah bersumpah untuk mewajibkannya bagi kalian (sesungguhnya kalian benar-benar dapat mengambil keputusan) sekehendak kalian tentangnya?

040. (Tanyakanlah kepada mereka, “Siapakah di antara mereka terhadap hal tersebut) hukum atau keputusan yang mereka ambil buat diri mereka sendiri, yaitu bahwasanya mereka kelak di akhirat akan diberi pahala yang lebih utama dari orang-orang mukmin (yang bertanggung jawab?”) yang menanggungnya bagi mereka.

041. (Atau apakah mereka mempunyai) di sisi mereka (sekutu-sekutu?) yang sepakat dengan mereka tentang ucapan itu, yaitu mereka akan menjamin bagi mereka dalam hal ini. Maka apabila memang demikian keadaannya (maka hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutu mereka) yang akan memberikan jaminan tentang hal itu bagi mereka (jika mereka adalah orang- orang yang benar.)

042. Ingatlah (pada hari betis disingkapkan) ungkapan ini menggambarkan tentang dahsyatnya keadaan pada hari kiamat, yaitu sewaktu hisab dan pembalasan dilaksanakan. Dikatakan “kasyafatil harbu ‘an saaqin”, artinya perang itu berkobar dengan sengitnya (dan mereka dipanggil untuk bersujud) sebagai ujian buat keimanan mereka (maka mereka tidak kuasa) karena punggung mereka lekat bertumpuk menjadi satu, sehingga mereka tidak dapat bersujud.

043. (Seraya tunduk ke bawah) lafal khaasyi`atan ini merupakan hal dari dhamir yang terkandung pada lafal yad`uuna, artinya, dalam keadaan terhina (pandangan mereka) maksudnya, mereka tidak dapat mengangkat pandangan matanya (lagi mereka diliputi) mereka diselimuti (kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu diseru) sewaktu di dunia (untuk bersujud sedang mereka dalam keadaan sejahtera) akan tetapi mereka tidak mau melakukannya, yakni tidak mau salat.

044. (Maka serahkanlah kepada-Ku) berikanlah kepada Aku (orang-orang yang mendustakan perkataan ini) yang mendustakan Alquran. (Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur) Kami akan mengambil mereka secara berangsur-angsur (dari arah yang tidak mereka ketahui.)

045. (Dan Aku memberi tangguh kepada mereka) Aku menangguhkan mereka. (Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh) amat kuat dan tak dapat ditinggalkan.

046. (Ataukah) yakni apakah (kamu meminta kepada mereka) atas penyampaian risalahmu (upah dengan utang, lalu mereka karena utang itu) karena apa yang harus mereka bayarkan kepadamu (merasa keberatan) karena itu lalu mereka tidak mau beriman kepada Alquran.

047. (Ataukah ada pada mereka ilmu tentang yang gaib) yaitu mengenai apa yang tertulis di Lohmahfuz (lalu mereka menulis) daripadanya apa yang mereka katakan itu.

048. (Maka bersabarlah kamu terhadap ketetapan Rabbmu) terhadap mereka, sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya (dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam perut ikan paus) dalam hal ketergesa-gesaannya dan ketidaksabarannya, yaitu sebagaimana Nabi Yunus a.s. (ketika ia berdoa) kepada Rabbnya (sedangkan ia dalam keadaan marah) terhadap kaumnya, hatinya penuh dengan kemarahan sewaktu ia berada di dalam perut ikan besar itu.

049. (Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat) tidak segera disusul oleh (nikmat) yakni rahmat (dari Rabbnya, benar-benar ia dicampakkan) dari perut ikan besar itu (ke tanah yang tandus) tanah yang tidak ada tumbuh-tumbuhannya (dalam keadaan tercela) akan tetapi Allah mengasihaninya sehingga ia dicampakkan tidak dalam keadaan tercela.

050. (Lalu Rabbnya memilihnya) memberinya kenabian (dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh) yakni sebagian dari para nabi.

051. (Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu) dapat dibaca layuzliquunaka dan layazliquunaka (dengan pandangan mereka) mereka memandangmu dengan pandangan yang sangat tajam, sehingga pandangannya hampir-hampir membuatmu pingsan dan menjatuhkanmu dari tempat atau kedudukanmu (tatkala mereka mendengar peringatan) yakni Alquran (dan mereka berkata) karena dengki, (“Sesungguhnya ia benar-benar orang gila.”) Mereka dengki karena Alquran yang diturunkan kepadanya itu.

052. (Dan tidak lain dia) yakni Alquran itu (hanyalah peringatan) pelajaran (bagi seluruh umat) yaitu jin dan manusia, dan tiada menimbulkan kegilaan disebabkannya.

Download Murottal Mp3 Surat Al Qalam

Muhammad Taha Al Junaid

Download

Ahmed Al Misbahi

Download

Yasser Al Dossari

Download

Salah Al Hashem

Download

Sahl Yasin

Download

Aziz Alili

Download

Abdurrahman Al Afasy

Download

Abdul Rahman Jamal Aloosi

Download

Abdallah Kamel

Download

Abdul Rahman Al Sudais

Download

Demikian ulasan lengkap mengeni Surat Al Qalam yang meliputi kisah asbabun nuzul, kandungan, dan fadhilahnya. Semoga artikel ini bermanfaat, terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *