Teks Bacaan Surat Al Qiyamah (Hari Kiamat) Arab Latin Indonesia dan Arti Terjemahannya

7 min read

Teks Bacaan Surat Al-Qiyamah – Surat Al Qiyamah yang artinya adalah hari kiamat merupakan surat ke 75 di dalam Al Quran. Surat yang terdiri dari 40 ayat ini termasuk ke dalam surat Makkiyah karena diturunkan di kota Makkah. Surat Al Qiyamah memiliki bacaan ayat Al Quran dengan 2 ruku’ yang berada di jus 29. Nama Al Qiyamah diambil dari kata Al Qiyamah yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Surat Al Qiyamah memiliki nama lain yaitu la uqsimu bi yaumil qiyamah.

Teks Bacaan Surat Al Qiyamah (Hari Kiamat) Arab Latin Indonesia dan Arti Terjemahannya
Teks Bacaan Surat Al Qiyamah (Hari Kiamat) Arab Latin Indonesia dan Arti Terjemahannya

Serupa dengan surat Al Quran yang lain, Surat Al Qiyamah ini juga mengandung banyak sekali keutamaan yang patut untuk diteladani. Untuk lebih jelasnya, berikut kami ulas mengenai asbabun nuzul, kandungan, dan fadhillah dari Surat Al Qiyamah ini.

Asbabun Nuzul Surat Al Qiyamah

Salah satu hadist yang mengisahkan mengenai asbabun nuzul dari Surat Al Qiyamah diriwayatkan oleh Al Bukhari yang bersumber dari Ibnu Abbas. Dalam hadist tersebut dijelaskan bahwa nabi Muhammad SAW selalu menggerak-gerakan lidahnya agar cepat menghafal wahyu yang diturunkan oleh malaikat Jibril.

Sebagai terguran kepada nabi Muhammad SAW, Allah SWT menurunkan Surat Al Qiyamah ayat 16 yang bunyinya:

‘’jangan engkau gerakan lidahmu ketika membaca Al Quran agar cepat untuk menguasainya’’ (Q.S Al Qiyamah 75; 16).

Surat Al Qiyamah ayat 16 ini diturunkan oleh Allah SWT agar nabi Muhammad SAW tidak menirukan wahyu Allah yang dibacakan oleh Jibril kalimat per kalimat. Nabi Muhammad SAW diperintahkan agar menghafal dan memahami wahyu tersebut ketika malaikat Jibril benar-benar telah selesai membacakannya.

Kandungan Surat Al Qiyamah

kandungan utama di dalam Surat Al Qiyamah adalah penjelasan mengenai dahsyatnya hari kiamat apabila telah tiba saatnya nanti. Siapa saja yang menyaksikan hari kiamat ini pasti akan bergetar ketakutan dan barulah mereka meminta pertolongan dari Allah SWT. Selain hari penghancuran, terdapat hari lain yang mampu menciutkan keberanian dan kepercayaan diri dari setiap manusia yaitu hari kebangkitan. Hari kebangkitan juga menjadi jawaban sekaligus balasan bagi manusia kafir yang telah mendustakan dan mengingkarinya.

Ayat pertama di dalam Surat Al Qiyamah sangatlah menyentak ‘’aku bersumpah untuk hari kiamat’’ (Q.S Al Qiyamah 75: 1). Bahkan Allah SWT sang pencipta dan penguasa seluruh alam mengeluarkan sumpahnya mengenai kedahsyatan dari hari kiamat ini.

Kemudian untuk ayat kedua dengan bunyi ‘’dan aku bersumpah terhadap jiwa yang sangat menyesal karena dirinya sendiri) Q.S Al Qiyamah 75: 1). Dalam ayat ini terkandung mengenai kisah seluruh manusia yang akan menyesali perbuatannya ketika dibangkitkan di hari setelah kematian. Mereka menyesal karena tak menambah amal baik selagi di dunia, mereka menyesali pula mengenai perbuatan kufur yang dilakukan semasa di dunia.

Fadhilah Surat Surat Al Qiyamah

Fadhilah yang utama dari Surat Al Qiyamah adalah akan diberikan tempat yang lapang dalam waktu yang lama di surga. Hal ini dibuktikan dengan hadist shohih yang diriwayatkan oleh Abi Nu’aim yang berbunyi:

‘’bahwa ketika Allah SWT medengar ayat ‘’Lam Yakunil Ladzina Kafaru’’, maka berikan kabar gembira bagi hambaku, demi keagunganku sebenarnya akan aku beri ketetapan kepadanya di dalam surga kelak sampai puas hatinya’’ (H.R Abi Nu’aim).

Teks Bacaan Surat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

لَآ اُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيٰمَةِۙ

lā uqsimu biyaumil-qiyāmah

Aku bersumpah dengan hari Kiamat,

وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

wa lā uqsimu bin-nafsil-lawwāmah

dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri).

اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَلَّنْ نَّجْمَعَ عِظَامَهٗ ۗ

a yaḥsabul-insānu allan najma’a ‘iẓāmah

Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya?

بَلٰى قَادِرِيْنَ عَلٰٓى اَنْ نُّسَوِّيَ بَنَانَهٗ

balā qādirīna ‘alā an nusawwiya banānah

(Bahkan) Kami mampu menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna.

بَلْ يُرِيْدُ الْاِنْسَانُ لِيَفْجُرَ اَمَامَهٗۚ

bal yurīdul-insānu liyafjura amāmah

Tetapi manusia hendak membuat maksiat terus-menerus.

يَسْـَٔلُ اَيَّانَ يَوْمُ الْقِيٰمَةِۗ

yas`alu ayyāna yaumul-qiyāmah

Dia bertanya, “Kapankah hari Kiamat itu?”

فَاِذَا بَرِقَ الْبَصَرُۙ

fa iżā bariqal-baṣar

Maka apabila mata terbelalak (ketakutan),

وَخَسَفَ الْقَمَرُۙ

wa khasafal-qamar

dan bulan pun telah hilang cahayanya,

وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُۙ

wa jumi’asy-syamsu wal-qamar

lalu matahari dan bulan dikumpulkan,

يَقُوْلُ الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍ اَيْنَ الْمَفَرُّۚ

yaqụlul-insānu yauma`iżin ainal-mafarr

pada hari itu manusia berkata, “Ke mana tempat lari?”

كَلَّا لَا وَزَرَۗ

kallā lā wazar

Tidak! Tidak ada tempat berlindung!

اِلٰى رَبِّكَ يَوْمَىِٕذِ ِۨالْمُسْتَقَرُّۗ

ilā rabbika yauma`iżinil-mustaqarr

Hanya kepada Tuhanmu tempat kembali pada hari itu.

يُنَبَّؤُا الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍۢ بِمَا قَدَّمَ وَاَخَّرَۗ

yunabba`ul-insānu yauma`iżim bimā qaddama wa akhkhar

Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.

بَلِ الْاِنْسَانُ عَلٰى نَفْسِهٖ بَصِيْرَةٌۙ

balil-insānu ‘alā nafsihī baṣīrah

Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri,

وَّلَوْ اَلْقٰى مَعَاذِيْرَهٗۗ

walau alqā ma’āżīrah

dan meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.

لَا تُحَرِّكْ بِهٖ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهٖۗ

lā tuḥarrik bihī lisānaka lita’jala bih

Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur’an) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.

اِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهٗ وَقُرْاٰنَهٗ ۚ

inna ‘alainā jam’ahụ wa qur`ānah

Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya.

فَاِذَا قَرَأْنٰهُ فَاتَّبِعْ قُرْاٰنَهٗ ۚ

fa iżā qara`nāhu fattabi’ qur`ānah

Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.

ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهٗ ۗ

ṡumma inna ‘alainā bayānah

Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya.

كَلَّا بَلْ تُحِبُّوْنَ الْعَاجِلَةَۙ

kallā bal tuḥibbụnal-‘ājilah

Tidak! Bahkan kamu mencintai kehidupan dunia,

وَتَذَرُوْنَ الْاٰخِرَةَۗ

wa tażarụnal-ākhirah

dan mengabaikan (kehidupan) akhirat.

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاضِرَةٌۙ

wujụhuy yauma`iżin nāḍirah

Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri,

اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ

ilā rabbihā nāẓirah

memandang Tuhannya.

وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍۢ بَاسِرَةٌۙ

wa wujụhuy yauma`iżim bāsirah

Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram,

تَظُنُّ اَنْ يُّفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ ۗ

taẓunnu ay yuf’ala bihā fāqirah

mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang sangat dahsyat.

كَلَّآ اِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَۙ

kallā iżā balagatit-tarāqī

Tidak! Apabila (nyawa) telah sampai ke kerongkongan,

وَقِيْلَ مَنْ ۜرَاقٍۙ

wa qīla man rāq

dan dikatakan (kepadanya), “Siapa yang dapat menyembuhkan?”

وَّظَنَّ اَنَّهُ الْفِرَاقُۙ

wa ẓanna annahul-firāq

Dan dia yakin bahwa itulah waktu perpisahan (dengan dunia),

وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِۙ

waltaffatis-sāqu bis-sāq

dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan),

اِلٰى رَبِّكَ يَوْمَىِٕذِ ِۨالْمَسَاقُ ۗ

ilā rabbika yauma`iżinil-masāq

kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.

فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلّٰىۙ

fa lā ṣaddaqa wa lā ṣallā

Karena dia (dahulu) tidak mau membenarkan (Al-Qur’an dan Rasul) dan tidak mau melaksanakan salat,

وَلٰكِنْ كَذَّبَ وَتَوَلّٰىۙ

wa lāking każżaba wa tawallā

tetapi justru dia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran),

ثُمَّ ذَهَبَ اِلٰٓى اَهْلِهٖ يَتَمَطّٰىۗ

ṡumma żahaba ilā ahlihī yatamaṭṭā

kemudian dia pergi kepada keluarganya dengan sombong.

اَوْلٰى لَكَ فَاَوْلٰىۙ

aulā laka fa aulā

Celakalah kamu! Maka celakalah!

ثُمَّ اَوْلٰى لَكَ فَاَوْلٰىۗ

ṡumma aulā laka fa aulā

Sekali lagi, celakalah kamu (manusia)! Maka celakalah!

اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَنْ يُّتْرَكَ سُدًىۗ

a yaḥsabul-insānu ay yutraka sudā

Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?

اَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّنْ مَّنِيٍّ يُّمْنٰى

a lam yaku nuṭfatam mim maniyyiy yumnā

Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim),

ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوّٰىۙ

ṡumma kāna ‘alaqatan fa khalaqa fa sawwā

kemudian (mani itu) menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya,

فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰىۗ

fa ja’ala min-huz-zaujainiż-żakara wal-unṡā

lalu Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan.

اَلَيْسَ ذٰلِكَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يُّحْيِ َۧ الْمَوْتٰى

a laisa żālika biqādirin ‘alā ay yuḥyiyal-mautā

Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?

Tafsir Surat

  1. (Aku bersumpah dengan hari kiamat) huruf Laa di sini adalah huruf Zaidah.
  2. (Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali) dirinya sendiri sekalipun ia berupaya sekuat tenaga di dalam kebaikan. Jawab Qasam tidak disebutkan; lengkapnya, Aku bersumpah dengan nama hari kiamat dan dengan nama jiwa yang banyak mencela, bahwa niscaya jiwa itu pasti akan dibangkitkan. Pengertian Jawab ini ditunjukkan oleh firman selanjutnya, yaitu:
  3. (Apakah manusia mengira) yakni, orang kafir (bahwa Kami tidak akan mengumpulkan kembali tulang belulangnya) untuk dibangkitkan menjadi hidup kembali.
  4. (Bukan demikian) Kami akan mengumpulkannya kembali (Kami kuasa) di samping mengumpulkan kembali tulang- tulangnya itu (menyusun kembali jari-jemarinya dengan sempurna) artinya, Kami dapat mengembalikan tulang jari-jemari itu sekalipun bentuknya kecil, maka terlebih lagi tulang-tulang lainnya yang lebih besar daripadanya.
  5. (Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus-menerus) huruf Lam yang ada pada lafal Liyafjura adalah Zaidah, sedangkan lafal Yafjuru dinashabkan oleh An yang diperkirakan keberadaannya. Yakni dia selalu berbuat dusta (di dalam menghadapinya) di dalam menghadapi hari kiamat. Pengertian ini ditunjukkan oleh firman selanjutnya, yaitu:
  6. (Ia bertanya, “Bilakah) Kapan (hari kiamat itu?”) pertanyaannya itu mengandung nada mengejek dan mendustakannya.
  7. (Maka apabila mata terbelalak) dapat dibaca Bariqa dan Baraqa, artinya kaget dan bimbang setelah ia melihat apa yang dahulu selalu ia dustakan.
  8. (Dan apabila bulan telah hilang cahayanya) yakni menjadi gelap dan lenyap sinarnya.
  9.  (Dan matahari dan bulan dikumpulkan) maka kedua-duanya terbit dari arah barat; atau kedua-duanya telah hilang sinarnya, yang demikian itu terjadi pada hari kiamat.
  10. (Pada hari itu manusia berkata, “Ke mana tempat lari?”)
  11. (Sekali-kali tidak) lafal ini menunjukkan kata tolakan terhadap pencarian jalan lari. (Tidak ada tempat berlindung) tidak ada tempat mengungsi yang dapat dijadikan perlindungan baginya.
  12. (Hanya kepada Rabbmu sajalah pada hari itu tempat kembali) bagi semua makhluk, lalu mereka dihisab dan menerima pembalasan.
  13. (Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya) yaitu semua amal perbuatannya dari mulai awal hingga akhir, diberitakan kepadanya.
  14. (Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri) yakni semua anggota tubuhnya memberikan kesaksian terhadap semua amal perbuatannya, sehingga ia tidak dapat mengingkarinya lagi. Huruf Ha yang ada pada lafal Bashiirah menunjukkan makna Mubalaghah.
  15. (Meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya) lafal Ma’aadziir bentuk jamak dari lafal Ma’dzirah, akan tetapi tidak menurut cara yang beraturan. Makna ayat, seandainya dia mengemukakan semua alasannya, niscaya alasan-alasannya itu tidak akan diterima. Allah berfirman kepada Nabi-Nya:
  16. (Janganlah kamu gerakkan untuk membacanya) membaca Alquran, sebelum malaikat Jibril selesai daripadanya (lisanmu karena hendak cepat-cepat menguasainya) karena kamu merasa khawatir bacaannya tidak dapat kamu kuasai.
  17. (Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya) di dadamu, maksudnya membuat kamu dapat menghafalnya (dan bacaannya) yakni membuatmu pandai membacanya; atau membuat mudah dibaca olehmu.
  18. (Apabila Kami telah selesai membacakannya) kepada kamu melalui bacaan malaikat Jibril (maka ikutilah bacaannya itu) artinya, dengarlah dengan seksama bacaan Jibril kepadamu terlebih dahulu. Sesungguhnya Nabi saw. setelah itu mendengarkannya terlebih dahulu dengan seksama, kemudian membacanya.
  19. (Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya) dengan memberikan pemahaman mengenainya kepadamu. Kaitan atau hubungan korelasi antara ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya ialah bahwasanya ayat-ayat sebelumnya itu mengandung makna berpaling dari ayat-ayat Allah. Sedangkan pada ayat ini terkandung pengertian bersegera menguasai ayat-ayat Allah dengan cara menghafalnya.
  20. (Sekali-kali jangan) lafal Kallaa menunjukkan makna Istiftah, yakni ingatlah (sebenarnya kalian mencintai kehidupan dunia) dapat dibaca Tuhibbuuna dan Yuhibbuuna, kalau dibaca Yuhibbuuna artinya, mereka mencintai kehidupan dunia.
  21. (Dan meninggalkan kehidupan akhirat) karena itu mereka tidak beramal untuk menyambut hari akhirat.
  22.  (Wajah-wajah pada hari itu) pada hari kiamat (ada yang berseri-seri) tampak cerah dan bercahaya.
  23. (Kepada Rabbnyalah mereka melihat) mereka akan melihat Allah swt. di akhirat.
  24. (Dan wajah-wajah pada hari itu ada yang muram) tampak gelap dan sangat muram.
  25. (Mereka yakin) merasa yakin (bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat) bencana yang sangat besar, yang dapat meremukkan tulang-tulang punggung.
  26.  (Sekali-kali jangan) bermakna Alaa, yakni ingatlah. (Apabila telah sampai) napas (pada tenggorokan) atau kerongkongan.
  27. (Dan dikatakan) kepadanya oleh yang ada di sekitarnya: (“Siapakah yang dapat mengobati?”) hingga sembuh.
  28. (Dan dia yakin) yakni orang yang napasnya telah sampai di tenggorokan itu merasa yakin akan hal tersebut (bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan) yaitu meninggalkan dunia.
  29. (Dan bertaut betis dengan betis) betis kanan dan betis kirinya bertaut ketika ia mati. Atau makna yang dimaksud ialah saling bertaut antara sakit berpisah dengan dunia dan sakit menghadapi akhirat di dalam dirinya.
  30. (Kepada Rabbmulah pada hari itu mereka dihalau) atau kepada-Nyalah mereka digiring; hal ini menunjukkan tentang adanya Amil dalam lafal Idzaa. Lengkapnya, apabila nyawa telah sampai di tenggorokan, maka ia akan dihalau menuju kepada keputusan Rabbnya.
  31. (Dan ia tidak mau membenarkan) yaitu manusia (dan tidak mau mengerjakan salat) ia tidak mau mempercayai rasul dan tidak pula mau mendirikan salat.
  32. (Tetapi ia mendustakan) Alquran (dan berpaling) dari iman.
  33. (Kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak) dengan langkah-langkah yang sombong.
  34. (Kecelakaanlah bagimu) di dalam ungkapan kalimat ini terkandung Iltifat dari Ghaibah, kalimat ini adalah Isim Fi’il, sedangkan huruf Lamnya menunjukkan makna Tabyin, artinya: dia menyerahkan kepadamu apa-apa yang tidak kamu sukai (maka kecelakaanlah bagimu) yakni dia lebih utama untuk diprioritaskan olehmu.
  35. (Kemudian kecelakaanlah bagimu dan kecelakaanlah bagimu) mengukuhkan makna ayat di atas.
  36. (Apakah manusia mengira) menduga (bahwa ia akan dibiarkan begitu saja) tanpa dibebani dengan syariat-syariat; janganlah ia menduga seperti itu.
  37. (Bukankah dia dahulu) sebelum itu (setetes mani yang ditumpahkan) ke dalam rahim; lafal Yumnaa dapat pula dibaca Tumnaa.
  38. (Kemudian adalah) mani itu (menjadi segumpal darah lalu Allah menciptakannya) dari air mani itu menjadi manusia (dan menyempurnakannya) melengkapinya dengan anggota-anggota tubuh yang diperlukannya.
  39. (Lalu Allah menjadikan daripadanya) dari air mani yang telah menjadi segumpal darah, segumpal daging (sepasang) dua jenis (laki-laki dan perempuan) terkadang menjadi satu dan terkadang tersendiri.
  40. (Bukankah yang berbuat demikian) yang mengerjakan kesemuanya itu (berkuasa pula menghidupkan orang mati?) Nabi saw. menjawab, tentu saja dapat.

Demikian ulasan lengkap mengenai Surat Al Qiyamah lengkap dengan kisah asbabun nuzul, kandungan, dan fadhilahnya. Semoga artikel ini bermanfaat, terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *