Teks Bacaan Surat Ar Rahman (Yang Maha Pemurah) Arab Latin Indonesia dan Arti Terjemahannya

12 min read

Surat Ar Rahman dengan artinya yang maha pemurah merupakan surat ke 78 di dalam Al Quran. surat yang terdiri dari 78 ayat ini termasuk ke dalam surat Makkiyah karena diturunkan di kota Makkah. Surat Ar Rahman memiliki bacaan ayat Al Quran dengan 3 ruku’ yang berada di jus 27. Nama Ar Rahman diambil dari sebuah kata yang terdapat di dalam ayat pertama surat ini yaitu Ar Rahman yang artinya adalah yang maha pemurah.

Teks Bacaan Surat Ar Rahman (Yang Maha Pemurah) Arab Latin Indonesia dan Arti Terjemahannya
Teks Bacaan Surat Ar Rahman (Yang Maha Pemurah) Arab Latin Indonesia dan Arti Terjemahannya

Serupa dengan surat Al Quran yang lain, Surat Ar Rahman ini juga mengandung banyak sekali keutamaan yang patut untuk diteladani. Untuk lebih jelasnya, berikut kami ulas mengenai asbabun nuzul, kandungan, dan fadhillah dari Surat Ar Rahman ini.

Asbabun Nuzul Surat Ar Rahman

Salah satu hadist yang menjelaskan mengenai asbabun nuzul Surat Ar Rahman diriwayatkan oleh Al Maraghi. Dalam hadist tersebut dijelaskan bahwa kaum kafir kota Makkah masih meragukan kenabian dan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Mereka juga menuduh bahwa pemahaman Nabi Muhammad SAW mengenai Al Quran, karena bantuan dari seseorang dan bukan karena karunia yang ia miliki.

Untuk membungkam kaum kafir tersebut, Allah SWT melalui malaikat Jibril menurunkan Surat Ar Rahman dengan bacaan: Innama yu’allimuhu basyuran. Ayat tersebut menjelaskan sekaligus menolak pendapat dari kaum kafir Makkah tersebut bahwa pengetahuan Nabi Muhammad SAW terhadap Al Quran karena bantuan orang lain. Pasalnya Allah lah yang langsung mengajari nabi Muhammad SAW mengenai kandungan Al Quran ayat demi ayat.

Kandungan Surat Ar Rahman

Inti dari kandungan Surat Ar Rahman adalah menerangkan kepada seluruh manusia bahwa Allah SWT adalah tuhan yang paling pemurah. Karunia Allah SWT tersebut diberikan kepada seluruh umatnya tanpa pandang bulu. Tak hanya kepada umatnya yang beriman, Allah SWT tetap memberikan rejeki dan rahmatnya kepada orang yang ingkar.

Fadhilah Surat Ar Rahman

  1. Meningkatkan keimanan

Arti Ar Rahman yang syarat dengan pujian yaitu maha pemurah, mampu menumbuhkan keimanan dalam diri seseorang. untuk itu, usahakan agar istiqomah dalam membaca Surat Ar Rahman beserta dengan arti terjemahanya.

  1. Mendapat Ridho dari Allah SWT

Kandungan Surat Ar Rahman yang menjelaskan mengenai segala nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT kepada seluruh hambanya. Maka dari itu, dengan rutin membacanya kita akan menumbuhkan rasa bersyukur di dalam hati. Selain itu, Allah SWT juga menjanjikan kepada siapa saja yang istiqomah dalam membaca surat ini akan mendapat ridho dan nikmat yang lebih.

  1. Disyahidkan Matinya

Dijelaskan dalam kitab Tsawabul A’mal, rasulullah bersabda ‘’siapa saja yang membaca surat Ar Rahman, dan ia membaca ayat fabiayyi aala’I robbikuma tukadzibaan, maka ketika matinya seperti dalam keadaan orang syahid’’. Seseorang yang membaca Surat Ar Rahman pada siang hari dan seketika itu dia meninggal, maka ia mati dalam keadaan syahid. Begitu pula dibaca pada malam hari, maka matinya malam itu adalah keadaan syahid.

  1. Mendapatkan Syafaat dari Allah SWT pada hari kiamat

Siapa saja yang bangun pada malam hari dan membaca surat Surat Ar Rahman atau setelah melaksanakan sholat fardhu, maka Allah SWT akan membuatmu bertemu dengannya dalam wujud manusia yang paling indah di hari kiamat kelak.

Demikian ulasan lengkap mengenai Surat Ar Rahman yang meliputi kisah asbabun nuzul, kandungan,dan fadhilah yang terdapat di dalamnya. Semoga artikel ini bermanfaat, terima kasih.

Teks Bacaan Surat Ar Rahman

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلرَّحْمٰنُۙ

ar-raḥmān

(Allah) Yang Maha Pengasih,

عَلَّمَ الْقُرْاٰنَۗ

‘allamal-qur`ān

Yang telah mengajarkan Al-Qur’an.

خَلَقَ الْاِنْسَانَۙ

khalaqal-insān

Dia menciptakan manusia,

عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

‘allamahul-bayān

mengajarnya pandai berbicara.

اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍۙ

asy-syamsu wal-qamaru biḥusbān

Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan,

وَّالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ

wan-najmu wasy-syajaru yasjudān

dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tunduk (kepada-Nya).

وَالسَّمَاۤءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيْزَانَۙ

was-samā`a rafa’ahā wa waḍa’al-mīzān

Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan,

اَلَّا تَطْغَوْا فِى الْمِيْزَانِ

allā taṭgau fil-mīzān

agar kamu jangan merusak keseimbangan itu,

وَاَقِيْمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيْزَانَ

wa aqīmul-wazna bil-qisṭi wa lā tukhsirul-mīzān

dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.

وَالْاَرْضَ وَضَعَهَا لِلْاَنَامِۙ

wal-arḍa waḍa’ahā lil-anām

Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya),

فِيْهَا فَاكِهَةٌ وَّالنَّخْلُ ذَاتُ الْاَكْمَامِۖ

fīhā fākihatuw wan-nakhlu żātul-akmām

di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang,

وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُۚ

wal-ḥabbu żul-‘aṣfi war-raiḥān

dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ

khalaqal-insāna min ṣalṣāling kal-fakhkhār

Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar,

وَخَلَقَ الْجَاۤنَّ مِنْ مَّارِجٍ مِّنْ نَّارٍۚ

wa khalaqal-jānna mim mārijim min nār

dan Dia menciptakan jin dari nyala api tanpa asap.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِۚ

rabbul-masyriqaini wa rabbul-magribaīn

Tuhan (yang memelihara) dua timur dan Tuhan (yang memelihara) dua barat.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيٰنِۙ

marajal-baḥraini yaltaqiyān

Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu,

بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيٰنِۚ

bainahumā barzakhul lā yabgiyān

di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُۚ

yakhruju min-humal-lu`lu`u wal-marjān

Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَاٰتُ فِى الْبَحْرِ كَالْاَعْلَامِۚ

wa lahul-jawāril-munsya`ātu fil-baḥri kal-a’lām

Milik-Nyalah kapal-kapal yang berlayar di lautan bagaikan gunung-gunung.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍۖ

kullu man ‘alaihā fān

Semua yang ada di bumi itu akan binasa,

وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِۚ

wa yabqā waj-hu rabbika żul-jalāli wal-ikrām

tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

يَسْـَٔلُهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِيْ شَأْنٍۚ

yas`aluhụ man fis-samāwāti wal-arḍ, kulla yaumin huwa fī sya`n

Apa yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

سَنَفْرُغُ لَكُمْ اَيُّهَ الثَّقَلٰنِۚ

sanafrugu lakum ayyuhaṡ-ṡaqalān

Kami akan memberi perhatian sepenuhnya kepadamu wahai (golongan) manusia dan jin!

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْاۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍۚ

yā ma’syaral-jinni wal-insi inistaṭa’tum an tanfużụ min aqṭāris-samāwāti wal-arḍi fanfużụ, lā tanfużụna illā bisulṭān

Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah).

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِّنْ نَّارٍۙ وَّنُحَاسٌ فَلَا تَنْتَصِرَانِۚ

yursalu ‘alaikumā syuwāẓum min nāriw wa nuḥāsun fa lā tantaṣirān

Kepada kamu (jin dan manusia), akan dikirim nyala api dan cairan tembaga (panas) sehingga kamu tidak dapat menyelamatkan diri (darinya).

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

فَاِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاۤءُ فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِۚ

fa iżansyaqqatis-samā`u fa kānat wardatang kad-dihān

Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilauan) minyak.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُسْـَٔلُ عَنْ ذَنْۢبِهٖٓ اِنْسٌ وَّلَا جَاۤنٌّۚ

fa yauma`iżil lā yus`alu ‘an żambihī insuw wa lā jānn

Maka pada hari itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

يُعْرَفُ الْمُجْرِمُوْنَ بِسِيْمٰهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِيْ وَالْاَقْدَامِۚ

yu’raful-mujrimụna bisīmāhum fa yu`khażu bin-nawāṣī wal-aqdām

Orang-orang yang berdosa itu diketahui dengan tanda-tandanya, lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

هٰذِهٖ جَهَنَّمُ الَّتِيْ يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُوْنَۘ

hāżihī jahannamullatī yukażżibu bihal-mujrimụn

Inilah neraka Jahanam yang didustakan oleh orang-orang yang berdosa.

يَطُوْفُوْنَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حَمِيْمٍ اٰنٍۚ

yaṭụfụna bainahā wa baina ḥamīmin ān

Mereka berkeliling di sana dan di antara air yang mendidih.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ جَنَّتٰنِۚ

wa liman khāfa maqāma rabbihī jannatān

Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۙ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

ذَوَاتَآ اَفْنَانٍۚ

żawātā afnān

kedua surga itu mempunyai aneka pepohonan dan buah-buahan.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

فِيْهِمَا عَيْنٰنِ تَجْرِيٰنِۚ

fīhimā ‘aināni tajriyān

Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang memancar.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

فِيْهِمَا مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ زَوْجٰنِۚ

fīhimā ming kulli fākihatin zaujān

Di dalam kedua surga itu terdapat aneka buah-buahan yang berpasang-pasangan.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

مُتَّكِـِٕيْنَ عَلٰى فُرُشٍۢ بَطَاۤىِٕنُهَا مِنْ اِسْتَبْرَقٍۗ وَجَنَا الْجَنَّتَيْنِ دَانٍۚ

muttaki`īna ‘alā furusyim baṭā`inuhā min istabraq, wa janal-jannataini dān

Mereka bersandar di atas permadani yang bagian dalamnya dari sutera tebal. Dan buah-buahan di kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

فِيْهِنَّ قٰصِرٰتُ الطَّرْفِۙ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ اِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَاۤنٌّۚ

fīhinna qāṣirātuṭ-ṭarfi lam yaṭmiṡ-hunna insung qablahum wa lā jānn

Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

كَاَنَّهُنَّ الْيَاقُوْتُ وَالْمَرْجَانُۚ

ka`annahunnal-yāqụtu wal-marjān

Seakan-akan mereka itu permata yakut dan marjan.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ

hal jazā`ul-iḥsāni illal-iḥsān

Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

وَمِنْ دُوْنِهِمَا جَنَّتٰنِۚ

wa min dụnihimā jannatān

Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۙ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan,

مُدْهَاۤمَّتٰنِۚ

mud-hāmmatān

kedua surga itu (kelihatan) hijau tua warnanya.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

فِيْهِمَا عَيْنٰنِ نَضَّاخَتٰنِۚ

fīhimā ‘aināni naḍḍākhatān

Di dalam keduanya (surga itu) ada dua buah mata air yang memancar.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

فِيْهِمَا فَاكِهَةٌ وَّنَخْلٌ وَّرُمَّانٌۚ

fīhimā fākihatuw wa nakhluw wa rummān

Di dalam kedua surga itu ada buah-buahan, kurma dan delima.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

فِيْهِنَّ خَيْرٰتٌ حِسَانٌۚ

fīhinna khairātun ḥisān

Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik dan jelita.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

حُوْرٌ مَّقْصُوْرٰتٌ فِى الْخِيَامِۚ

ḥụrum maqṣụrātun fil-khiyām

Bidadari-bidadari yang dipelihara di dalam kemah-kemah.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

لَمْ يَطْمِثْهُنَّ اِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَاۤنٌّۚ

lam yaṭmiṡ-hunna insung qablahum wa lā jānn

Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia maupun oleh jin sebelumnya.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

مُتَّكِـِٕيْنَ عَلٰى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَّعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍۚ

muttaki`īna ‘alā rafrafin khuḍriw wa ‘abqariyyin ḥisān

Mereka bersandar pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ

fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

تَبٰرَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِى الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِ

tabārakasmu rabbika żil-jalāli wal-ikrām

Mahasuci nama Tuhanmu Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.

 

Tafsir Jalalain (Imam As-Syuyuti) Surat Ar-Rahman Bahasa Indonesia

  1. (Yang Maha Pemurah) yakni Allah swt.
  2. (Telah mengajarkan) kepada siapa yang dikehendaki-Nya (Alquran).
  3. (Dia menciptakan manusia) jenis manusia.
  4. (Mengajarinya pandai berbicara) atau dapat berbicara.
  5. (Matahari dan bulan menurut perhitungan) maksudnya, keduanya beredar menurut perhitungan.
  6. (Dan tumbuh-tumbuhan) jenis tumbuh-tumbuhan yang tidak mempunyai batang (dan pohon-pohonan) jenis tumbuh- tumbuhan yang memiliki batang (kedua-duanya tunduk kepada-Nya) keduanya tunduk kepada apa yang dikehendaki-Nya.
  7. (Dan Dia telah meninggikan langit dan meletakkan neraca) yaitu menetapkan keadilan.
  8. (Supaya kalian jangan melampaui batas) agar kalian jangan berbuat curang (dalam timbangan itu) maksudnya dalam menimbang sesuatu dengan mempergunakan timbangan itu.
  9. (Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil) artinya tidak curang (dan janganlah kalian mengurangi timbangan itu) maksudnya mengurangi barang yang ditimbang itu.
  10. (Dan bumi telah diletakkan-Nya) telah dimantapkan-Nya (untuk semua makhluk) untuk manusia, jin, dan lain-lainnya.
  11. (Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma) yang ditanam dan dipelihara (yang mempunyai kelopak mayang) memiliki kelopak-kelopak di bagian atasnya.
  12. (Dan biji-bijian) seperti gandum dan jawawut (yang berbulir) yang ada merangnya (dan daun-daunan yang harum baunya) wangi baunya.
  13. (Maka manakah nikmat-nikmat) atau karunia-karunia (Rabb kamu berdua) hai manusia dan jin (yang kamu dustakan?) ayat ini disebutkan di dalam surah ini sebanyak tiga puluh satu kali. Istifham atau kata tanya yang terdapat dalam ayat ini mengandung makna taqrir atau menetapkan, demikian itu karena ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Hakim melalui Jabir r.a. yang telah menceritakan, bahwa Rasulullah saw. membacakan kepada kami surah Ar Rahman hingga selesai. Kemudian beliau bersabda, “Mengapa kalian ini diam saja?” Sungguh jin lebih baik jawabannya daripada kalian. Karena sesungguhnya tiada sekali-kali aku bacakan kepada mereka ayat ini, “Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?” (Q.S. Ar Rahman, 13) melainkan mereka menjawabnya, “Wahai Rabb kami, tiada satu pun nikmat-Mu yang kami dustakan, bagi-Mu segala puji.”
  14. (Dia menciptakan manusia) yakni Nabi Adam (dari tanah kering) tanah kering yang apabila diketuk akan mengeluarkan suara berdenting (seperti tembikar) seperti tanah liat yang dibakar
  15. (Dan Dia menciptakan jin) yakni bapak moyang jin, yaitu iblis (dari nyala api) yaitu nyala api yang tidak berasap
  16. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  17. (Rabb yang memelihara kedua tempat terbit matahari) yaitu tempat terbitnya di waktu musim dingin dan tempat terbitnya di waktu musim panas (dan Rabb yang memelihara kedua tempat terbenamnya) penafsirannya seperti pada yang pertama tadi.
  18. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  19. (Dia membiarkan) atau melepaskan (dua laut) yang airnya tawar dan yang asin (saling bertemu) menurut pandangan mata.
  20. (Antara keduanya ada batas) ada penghalang yang membatasi keduanya dari kekuasaan Allah swt. (yang tidak dilampaui oleh masing-masing) yang satu melampaui yang lainnya sehingga bercampur.
  21. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  22. (Keluarlah) dapat dibaca Yakhruju. dan Yukhraju (daripada keduanya) dari pertemuan di antara keduanya, yakni dari bagian yang airnya asin (mutiara dan marjan) marjan artinya batu yang berwarna merah atau yang dimaksud adalah mutiara yang kecil.
  23. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  24. (Dan kepunyaan-Nyalah bahtera-bahtera) perahu-perahu (yang dibangun) yang dibuat (di lautan laksana gunung-gunung) lautan besar yang tingginya bagaikan gunung-gunung.
  25. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  26. (Semua yang ada di bumi itu) yakni semua makhluk hidup yang ada padanya (akan binasa) akan mati; di sini diungkapkan semua makhluk hidup dengan memakai kata Man, karena memprioritaskan makhluk yang berakal.
  27. (Dan tetap kekal Zat Rabbmu) yakni Zat-Nya (Yang mempunyai kebesaran) atau keagungan (dan kemuliaan) Yang Maha Dermawan kepada orang-orang mukmin dengan melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepada mereka.
  28. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  29. (Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya) baik melalui ucapan mereka atau pun perbuatan mereka, yaitu meminta apa-apa yang mereka perlukan berupa kekuatan untuk menjalankan ibadah, rezeki, ampunan dan lain sebagainya. (Setiap hari) setiap waktu (Dia dalam suatu perkara) yaitu perkara yang hendak dilahirkan-Nya sesuai dengan apa yang telah ditentukan-Nya sejak zaman Azali antara lain, menghidupkan, mematikan, memuliakan, menghinakan, memberikan kecukupan, memiskinkan, mengabulkan doa dan memenuhi yang meminta.
  30. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  31. (Kami akan menyelesaikan kamu sekalian) artinya, Kami hendak menghisab kalian semuanya (hai manusia dan jin) hai jenis manusia dan jenis jin.
  32. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  33. (Hai semua jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus) melintasi (penjuru) atau kawasan-kawasan (langit dan bumi, maka lintasilah) perintah di sini mengandung makna yang menunjukkan ketidakmampuan mereka untuk melakukan hal tersebut (kalian tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan) dan kalian tidak akan mempunyai kekuatan untuk itu.
  34. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  35. (Kepada kamu berdua akan dilepaskan nyala api) yakni nyala api yang tidak berasap atau nyala api yang berasap (dan asap) yaitu asap murni yang tidak ada nyala apinya (maka kamu berdua tidak akan dapat menyelamatkan diri) daripadanya, bahkan kalian kelak akan digiring ke padang Mahsyar.
  36. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  37. (Maka apabila langit telah terbelah) artinya, terbuka pintu-pintunya karena turunnya malaikat-malaikat (dan menjadi merah mawar) memerah seperti warna bunga mawar (seakan-akan kilapan minyak) bagaikan minyak yang berwarna merah berbeda keadaannya dengan yang biasa. Di dalam ungkapan ayat ini terkandung jawabannya, yakni apabila saat itu datang, betapa dahsyatnya kengerian dan ketakutan melihatnya.
  38. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).
  39. (Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya) tetapi mereka akan ditanya mengenai dosanya di lain waktu, karena ini merupakan suatu janji sebagaimana yang diungkapkan di dalam firman lainnya, yaitu, “Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua.” (Q.S. Al Hijr, 92) Lafal Al Jaan di sini sebagaimana yang akan dijelaskan nanti adalah bermakna jin, dan lafal Al Insu artinya manusia.
  40. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  41. (Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya) yakni, mukanya berwarna hitam dan matanya berwarna biru (lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka).
  42. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?) Keadaan orang-orang yang berdosa pada saat itu, kedua telapak kaki mereka disatukan dengan ubun-ubunnya dari arah belakang, yaitu dilipat lalu mereka dilemparkan ke dalam neraka dan dikatakan kepada mereka,
  43. (“Inilah neraka Jahanam yang didustakan oleh orang-orang yang berdosa”).
  44. (Mereka berkeliling) yakni berjalan dengan cepat (di antaranya dan di antara air yang mendidih yaitu air panas (yang memuncak panasnya) panasnya tak terperikan, lalu mereka diberi minum air panas tersebut apabila mereka meminta tolong karena panasnya api neraka; lafal Anin termasuk Isim Manqush, sama halnya dengan lafal Qaadhin.
  45. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  46. (Dan bagi orang yang takut) bagi masing-masing dari mereka atau bagi mereka semuanya (akan saat menghadap Rabbnya) yaitu takut manakala ia berdiri di hadapan Rabbnya untuk menjalani hisab. Oleh karena itu, maka ia tidak mau berbuat durhaka kepada-Nya (ada dua taman).
  47. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  48. (Kedua taman itu mempunyai) lafal Dzawaata adalah bentuk Tatsniyah dari lafal Dzawaat sesuai dengan bentuk asalnya; dan Lam fi’ilnya pada asalnya adalah huruf Ya (pohon-pohon yang rindang) banyak tangkainya; merupakan bentuk jamak dari lafal Fananun yang wazannya sama dengan lafal Thalalun.
  49. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  50. (Di dalam kedua taman surga itu ada dua buah mata air yang mengalir).
  51. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  52. (Di dalam kedua taman surga itu terdapat segala macam buah-buahan) di dunia atau semua yang dianggap sebagai buah- buahan (yang berpasang-pasangan) yakni dua jenis-dua jenis, ada yang basah dan ada yang kering. Buah Hanzhal yang di dunia terasa amat pahit, tetapi di surga akan terasa manis
  53. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  54. (Mereka bersandarkan) menjadi Hal atau kata keterangan keadaan dari ‘Amilnya yang tidak disebutkan, yakni mereka bersenang-senang seraya bersandarkan (di atas permadani yang bagian dalamnya terbuat dari sutera) yaitu sutera yang tebal lagi kasar, sedangkan bagian luarnya yang diduduki terbuat dari sutera yang halus sekali. (Dan buah-buahan kedua surga itu) semua buah-buahannya (dapat dipetik dari dekat) artinya, dekat sekali letaknya sehingga mudah dipetik, baik oleh orang yang sedang berdiri maupun yang duduk dan yang sedang berbaring.
  55. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  56. (Di dalam surga itu) maksudnya, dalam kedua surga itu dan pada gedung-gedung dan istana-istana yang ada di dalamnya (ada bidadari-bidadari yang selalu menundukkan pandangan matanya) artinya, pandangan mereka terbatas hanya kepada suami-suami mereka saja yang terdiri dari manusia dan jin (tidak pernah disentuh) mereka belum pernah digauli; mereka terdiri dari bidadari-bidadari atau wanita-wanita dunia yang masuk surga (oleh manusia sebelum mereka -penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka dan tidak pula oleh jin).
  57. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  58. (Seakan-akan bidadari-bidadari itu permata yaqut) dalam hal beningnya (dan marjan) maksudnya, putihnya bagaikan permata.
  59. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  60. (Tidak ada) tiada (balasan kebaikan) atau ketaatan (kecuali kebaikan pula) atau kenikmatan.
  61. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  62. (Dan selain dari kedua surga itu) yakni kedua surga yang telah disebutkan tadi (ada dua surga lagi) yaitu bagi orang yang takut akan saat menghadap kepada Rabbnya.
  63. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  64. (Kedua surga itu hijau tua warnanya) kelihatan hijau pekat karena sangat hijaunya.
  65. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  66. (Di dalam kedua surga itu ada dua mata air yang memancar) bagaikan air mancur.
  67. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  68. (Di dalam keduanya ada buah-buahan dan kurma serta delima) buah kurma dan delima itu menurut suatu pendapat adalah sebagaimana aslinya, tetapi menurut pendapat yang lain tidak seperti bentuk aslinya.
  69. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  70. (Di dalam surga-surga itu) di kedua surga dan apa-apa yang ada di dalamnya itu (ada bidadari-bidadari yang baik-baik) akhlaknya (lagi cantik-cantik) rupanya.
  71. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  72. (Bidadari-bidadari itu-sangat jelita) mata mereka sangat jelita (mereka dipingit) tertutup (di dalam kemah-kemah) yang terbuat dari permata yang dilubangi, keadaan mereka diserupakan dengan gadis-gadis yang dipingit di dalam kemahnya.
  73. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  74. (Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka) sebelum oleh suami-suami mereka (dan tidak pula oleh jin).
  75. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  76. (Mereka bersandarkan) suami-suami mereka bertelekan; I’rab lafal ayat ini sama dengan sebelumnya (pada bantal-bantal yang hijau) merupakan bentuk jamak dari lafal Rafrafatun, artinya permadani atau bantal (dan bergelarkan pada permadani- permadani yang indah) merupakan bentuk jamak dari lafal ‘Abqariyyah, artinya permadani.
  77. (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
  78. (Maha Agung nama Rabbmu Yang mempunyai kebesaran dan Karunia) penafsirannya sebagaimana sebelumnya, dan lafal Ismi pada ayat ini merupakan Isim Zaaid atau Isim yang ditambahkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *